Menjelang bulan suci, ucapan Ramadhan Kareem sering ditemukan di berbagai platform media sosial hingga ruang publik. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada makna Ramadhan yang mulia atau murah hati, yang menjadi doa serta harapan bagi umat Muslim dalam menyambut bulan penuh ampunan.
Makna Filosofis di Balik Kata Ramadhan dan Kareem
Dosen Universitas Nasional, Abbas Muhammad Basalamah, menjelaskan bahwa kata Ramadhan berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti panas yang membakar. Secara filosofis, hal ini menggambarkan fungsi bulan suci sebagai sarana untuk membakar dosa-dosa melalui ibadah puasa dan kesabaran.
Sementara itu, kata Kareem memiliki arti penderma atau pemurah. Gabungan kedua kata tersebut merepresentasikan sebuah bulan yang penuh dengan limpahan rahmat serta pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh.
Tinjauan Ulama: Ramadhan Kareem atau Ramadhan Mubarak?
Meskipun penggunaan istilah Ramadhan Kareem sangat populer secara global, terdapat diskusi di kalangan ulama mengenai ketepatan penggunaannya secara akidah. Salah satu pandangan datang dari ulama terkemuka, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yang memberikan catatan khusus terkait hal ini.
Beliau menjelaskan bahwa ungkapan yang lebih tepat adalah Ramadhan Mubarak. Berikut adalah beberapa poin pertimbangannya:
- Ramadhan bukanlah subjek yang memberikan kemuliaan atau keberkahan secara mandiri.
- Allah SWT adalah pihak yang memberikan keberkahan pada bulan tersebut.
- Kata Mubarak yang berarti yang diberkahi dinilai lebih tepat secara bahasa dan akidah.
Meski demikian, penggunaan istilah Ramadhan Kareem tetap dipahami secara luas sebagai bentuk doa dan ungkapan kebaikan antar sesama Muslim, bukan sebagai keyakinan bahwa waktu itu sendiri yang memberi berkah.
Ramadhan sebagai Momen Evaluasi Diri
Di luar perdebatan istilah, Ramadhan dimaknai sebagai momentum emas untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah. Bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan jiwa dari perbuatan sia-sia serta meningkatkan kualitas takwa melalui manajemen waktu yang lebih baik antara urusan dunia dan akhirat.
Informasi mengenai makna dan tinjauan istilah keagamaan ini disusun berdasarkan penjelasan para ahli dan kutipan dari literatur keislaman yang dirilis melalui berbagai saluran edukasi religi resmi.
