Berita

Menteri Agama Malaysia Zulkifli Hasan Klaim Stres Kerja Jadi Pemicu Perilaku LGBT Berdasarkan Studi 2017

Menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia (Urusan Agama), Zulkifli Hasan, menuai perhatian publik setelah mengeklaim bahwa stres kerja merupakan salah satu faktor pemicu perilaku LGBT. Pernyataan ini disampaikan Zulkifli sebagai tanggapan atas pertanyaan terkait tren isu LGBT di Malaysia pada Selasa, 27 Januari 2026.

Zulkifli menjelaskan, pengaruh sosial, pengalaman seksual, stres pekerjaan, dan faktor pribadi lainnya berkontribusi terhadap gaya hidup LGBT. Informasi tersebut didasarkan pada hasil studi tahun 2017 oleh Sulaiman dkk. “Studi tersebut menekankan bahwa kombinasi dari unsur-unsur ini dapat berkontribusi terhadap perkembangan perilaku yang berkaitan dengan LGBT,” ungkapnya, dikutip dari New Straits Times.

Keterbatasan Data dan Penegakan Hukum

Pernyataan Zulkifli muncul sebagai respons terhadap pertanyaan dari PN-Rantau Panjang Datuk Siti Zailah Mohd Yusoff, yang meminta data terbaru mengenai tren isu LGBT di Malaysia, termasuk rincian persentase berdasarkan kelompok usia dan komposisi etnis, serta faktor-faktor utama yang berkontribusi. Namun, Zulkifli mengakui bahwa pemerintah tidak memiliki statistik resmi mengenai jumlah populasi LGBT di Malaysia.

“Data komprehensif mengenai jumlah orang LGBT di Malaysia masih terbatas,” jelasnya. Lebih lanjut, Zulkifli mengungkapkan bahwa otoritas keagamaan negara telah menangkap total 135 orang terkait aktivitas LGBT dari tahun 2022 hingga 2025. Penegakan hukum terhadap kasus-kasus pidana syariah berada di bawah kewenangan otoritas keagamaan masing-masing negara bagian.

“Setiap orang yang dicurigai terlibat dalam kegiatan tersebut, tapi tanpa bukti yang cukup (untuk menjerat mereka), akan diberikan nasihat, konseling, atau diperintahkan untuk mengikuti program rehabilitasi guna mempelajari ajaran Islam yang benar,” terangnya, dilansir dari Free Malaysia Today, Senin (26/1/2026).

Pemerintah juga telah menyelenggarakan berbagai program dan kursus khusus bagi kelompok ini untuk membimbing mereka ke arah yang lebih positif, termasuk bantuan untuk memasuki bidang pekerjaan yang lebih baik atau terjun ke dunia usaha. Hal ini disampaikan Zulkifli sebagai tanggapan atas pertanyaan Rosol Wahid (PN–Hulu Terengganu) mengenai jumlah penangkapan dan tindakan yang diambil terhadap kasus LGBT.

Zulkifli menegaskan bahwa pemerintah Madani dengan tegas menolak segala bentuk promosi program atau acara bertema LGBT, terutama di media sosial, karena bertentangan dengan ajaran Islam. Masyarakat dapat mengajukan pengaduan kepada Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia apabila menemukan upaya promosi kegiatan semacam itu secara daring.

Tanggapan Aktivis dan Pakar

Pernyataan Zulkifli menuai kritik dari aktivis hak asasi. Thilaga Sulathiret dari kelompok pembela hak LGBTQ Justice for Sisters menggambarkan pernyataan tersebut “tidak masuk akal” dan menunjukkan tren represi terhadap komunitas LGBTQ yang dilegitimasi negara.

“Informasi keliru ini memperkuat anggapan bahwa orientasi seksual dan identitas gender orang LGBT dapat diperbaiki, diubah, atau tidak nyata maupun tidak sah dibandingkan identitas heteroseksual cisgender,” kata Thilaga Sulathireh, dikutip dari SCMP, Rabu (28/1/2026).

Menurut Thilaga, keberagaman orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks adalah sesuatu yang sepenuhnya alami dan normal, dibuktikan oleh lembaga medis dan badan-badan lainnya. Ia mendesak Menteri untuk menarik dan mengoreksi informasi yang keliru tersebut.

Sementara itu, pakar saraf dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS, menegaskan bahwa LGBT sejatinya bukan penyakit maupun kelainan medis. “LGBT bukan penyakit. Dulu kita melihatnya sebagai kelainan, sekarang variasi kehidupan saja. Dalam biologi, enggak ada yang enggak normal. Semua hanya variasi,” kata Ryu, dikutip dari KOMPAS.com.

Menurut Ryu, pembentukan jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual merupakan proses biologis yang berbeda dan telah terjadi sejak seseorang masih berada dalam kandungan. Variasi genetik dan struktur otak membuat kromosom XX atau XY tidak selalu menentukan jenis kelamin, identitas gender, maupun orientasi seksual seseorang. Ryu menegaskan bahwa orientasi seksual pada akhirnya merupakan bagian dari pilihan hidup dan kenyamanan pribadi.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia (Urusan Agama) yang dirilis pada akhir Januari 2026.