Edukasi

Pakar Kesehatan Unair Jelaskan Kiat Jaga Nafas Segar dan Energi Optimal Selama Ibadah Puasa

Advertisement

Ibadah puasa selama lebih dari 12 jam membawa perubahan signifikan pada metabolisme tubuh, seringkali disertai masalah bau mulut yang mengganggu aktivitas sosial. Menanggapi fenomena ini, Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh, menjelaskan bahwa penyebab bau mulut saat berpuasa tidak semata karena menahan makan dan minum, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh asupan makanan dan minuman ketika sahur.

Penyebab Bau Mulut Saat Puasa

Lailatul Muniroh menjelaskan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak dan protein secara berlebihan saat sahur dapat memicu bau mulut tidak sedap. “Makanan tinggi lemak dan protein yang berlebih itu bisa menghasilkan sulfur, di mana sulfur itu bisa menimbulkan bau yang tidak sedap pada mulut,” paparnya, mengutip video yang diunggah di kanal YouTube Unair TV pada Minggu, 22 Februari 2026.

Selain itu, asupan kafein berlebih saat sahur juga menjadi pemicu bau mulut. Kafein bersifat diuretik, yang mempercepat proses buang air kecil dan menyebabkan tubuh lebih cepat mengalami dehidrasi, termasuk area mulut menjadi kering. “Mulut yang kering itu adalah media untuk perkembangan bakteri,” terang Lailatul.

Ia menambahkan, makanan manis juga dapat mengundang bakteri penyebab bau mulut. Oleh karena itu, bau mulut saat berpuasa bukan semata karena tidak makan dan minum, melainkan sangat bergantung pada jenis asupan saat sahur. Lailatul menyarankan untuk menyikat gigi dan mengonsumsi buah dengan kadar air tinggi sebagai salah satu cara menghindari bau mulut.

Pentingnya Pola Makan Sahur dan Berbuka

Untuk menjaga stamina dan menghindari rasa lemas di siang hari selama berpuasa, komposisi makanan saat sahur dan berbuka menjadi krusial. Lailatul Muniroh menjelaskan bahwa konsumsi karbohidrat, khususnya nasi dalam jumlah tinggi tanpa pendamping, dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat turun kembali.

“Dia (nasi) memiliki indeks glikemik tinggi yang menyebabkan lonjakan gula darah juga tinggi. Ketika lonjakan gula darah itu tinggi, insulin juga tinggi. Sehingga gula darah juga bisa turun dengan cepat,” terang Lailatul, yang pada akhirnya memicu rasa lemas dan lapar lebih cepat.

Advertisement

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengikuti panduan “isi piringku” yang mencakup karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah dalam porsi seimbang. Lailatul juga meluruskan anggapan populer “berbukalah dengan yang manis-manis”, yang menurutnya merujuk pada gula alami dari buah-buahan, bukan gula tambahan.

Tahapan pertama saat berbuka puasa yang disarankan adalah minum segelas air putih, diikuti dengan mengonsumsi 1-3 buah kurma.

Panduan Isi Piringku dan Rumus Hidrasi 2-4-2

Selain asupan nutrisi, manajemen cairan tubuh juga memegang peranan krusial selama berpuasa. Lailatul Muniroh membagikan rumus hidrasi 2-4-2 untuk memastikan kebutuhan 2 liter air per hari terpenuhi. Pola ini terdiri dari 2 gelas air saat berbuka puasa, 4 gelas secara bertahap sepanjang malam hingga sebelum tidur, dan 2 gelas saat makan sahur.

“Dengan pola seperti itu, insya Allah tubuh itu tercukupi untuk cairannya ya, di samping kita juga bisa menambahkan cairan alami, misalkan dari buah-buahan ataupun dari cairan yang kita konsumsi,” pungkasnya. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu menjaga hidrasi optimal dan mencegah dehidrasi selama berpuasa.

Informasi mengenai tips menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh selama berpuasa ini disampaikan oleh Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh, melalui kanal YouTube Unair TV pada Minggu, 22 Februari 2026.

Advertisement