Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan besar dalam mengoptimalkan peran strategis santri di struktur formal negara. Meskipun memiliki basis massa besar dengan ribuan pesantren, posisi santri di birokrasi, eksekutif, hingga sektor profesional dinilai masih berada di pinggiran.
Dekonstruksi Doktrin dan Reorientasi Peran Santri
Dunia pesantren saat ini dinilai perlu melakukan dekonstruksi terhadap doktrin tradisional yang membatasi kesuksesan santri hanya pada peran kiai atau ustadz. Pemahaman sempit mengenai tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama sering kali memicu penumpukan tenaga pengajar yang tidak sebanding dengan ketersediaan ruang pengabdian di masyarakat.
Transformasi ini bertujuan agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu menjadi teknokrat, birokrat, dokter, hakim, hingga CEO perusahaan multinasional. Kehadiran santri di posisi strategis seperti Direktur Jenderal atau posisi teknis lainnya dianggap krusial agar kebijakan negara tetap selaras dengan nilai-nilai pesantren.
Penguatan Kurikulum Nasional dan Akses Pendidikan Global
Pesantren diharapkan tidak lagi memandang Kurikulum Nasional sebagai beban formalitas, melainkan instrumen penting untuk masuk ke dalam sistem negara. Penguasaan matematika, sains, humaniora, dan bahasa Inggris menjadi syarat mutlak agar santri mampu bersaing dalam seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit maupun universitas ternama di luar negeri.
Untuk mendukung hal tersebut, pesantren disarankan memiliki program tambahan seperti bimbingan belajar internal untuk persiapan UTBK atau beasiswa internasional. Targetnya adalah mendistribusikan santri ke institusi pendidikan tinggi kelas dunia seperti UI, ITB, Harvard, hingga Oxford.
Tantangan Infrastruktur dan Kapasitas Pendidik
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas pendukung seperti laboratorium sains, perpustakaan, dan akses teknologi informasi di banyak pesantren masih jauh dari standar profesional. Selain infrastruktur, kapasitas tenaga pendidik juga menjadi sorotan utama dalam upaya transformasi ini.
NU secara organisatoris melalui Pergunu dan LP Ma’arif didorong untuk melakukan supervisi ketat terhadap manajemen pendidikan pesantren. Linieritas latar belakang pendidikan pengajar mata pelajaran umum harus menjadi syarat mutlak guna memastikan transfer ilmu yang maksimal kepada para santri.
Informasi mengenai arah transformasi pendidikan ini merupakan bagian dari refleksi strategis pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.
