Teknologi

Pengguna TikTok di AS Ramai Hapus Aplikasi, Soroti Kebijakan Privasi Baru dan Pemilik Anyar

Jakarta – Aplikasi video pendek TikTok tengah menghadapi gelombang penolakan dari penggunanya di Amerika Serikat (AS) menyusul pengumuman pergantian kepemilikan dan pembaruan kebijakan privasi. Ribuan pengguna dilaporkan menghapus aplikasi ini, memicu perbincangan hangat di media sosial.

Gelombang Uninstall dan Kenaikan Aplikasi Alternatif

Menurut data dari firma analisis pasar Sensor Tower, rata-rata harian pengguna AS yang menghapus aplikasi TikTok meningkat hampir 150% dalam lima hari terakhir, dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Meskipun demikian, peningkatan jumlah uninstall ini belum berdampak signifikan terhadap tingkat penggunaan TikTok di AS, yang menurut Sensor Tower, masih relatif stabil.

Di sisi lain, popularitas sejumlah aplikasi alternatif TikTok meroket dalam semalam. Sensor Tower mencatat unduhan aplikasi UpScrolled di AS melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, Skylight Social mengalami kenaikan 991%, dan Rednote meningkat 53% dari minggu sebelumnya.

Pergantian Kepemilikan dan Kebijakan Privasi Baru

Pekan lalu, TikTok mengumumkan pembentukan joint venture bernama USDS Joint Venture, sebuah langkah yang diambil agar aplikasi tersebut tetap dapat beroperasi di AS. Dengan struktur baru ini, TikTok di AS kini memiliki pemilik dan kepemimpinan baru di bawah CEO Adam Presser.

Sejumlah pengguna menyuarakan kekecewaan mereka atas joint venture tersebut, terutama setelah diminta menyetujui kebijakan privasi baru. Beberapa unggahan di media sosial menyoroti kebijakan baru TikTok yang mengumpulkan informasi sensitif seperti ras atau etnis asal, orientasi seksual, status imigrasi, kewarganegaraan, hingga informasi keuangan.

Namun, jika dibandingkan dengan kebijakan privasi sebelumnya, ketentuan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Versi arsip kebijakan privasi TikTok dari Agustus 2024 telah mencakup ketentuan serupa.

Insiden Pemadaman Layanan dan Spekulasi Pengguna

Selain isu kebijakan privasi, TikTok di AS juga sempat mengalami pemadaman layanan selama berjam-jam setelah pengumuman joint venture ini. Kreator TikTok, Nadya Okamoto, mengungkapkan bahwa ia tidak dapat mengunggah video selama hampir 24 jam.

“Di dunia maya banyak sekali perbincangan tentang – apakah ini semua kebetulan atau sensor, dan seperti apa bentuknya. Karena semuanya terjadi bersamaan, itu sangat menakutkan,” ujar Okamoto, seperti dikutip dari CNBC, Selasa (27/1/2026).

Akun X yang terkait dengan TikTok USDS Joint Venture menjelaskan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh pemadaman listrik di pusat data di AS. “Kami sedang bekerja sama dengan mitra kami untuk menstabilkan layanan kami,” tulis akun tersebut.

Cuplikan terbaru dan informasi detail mengenai operasional TikTok di Amerika Serikat dapat diakses melalui kanal YouTube resmi USDS Joint Venture.