PT Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau resmi menjalankan program Si Cadiak atau Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah di Nagari Padang Toboh, Sumatera Barat. Program ini mengusung pendekatan ekonomi sirkular dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan yang sebelumnya tidak terkelola menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Transformasi Limbah Menjadi Bioetanol dan Parfum
Melalui inisiatif ini, limbah jerami dan kotoran ternak diposisikan sebagai sumber daya produktif untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Program Si Cadiak tercatat mampu mengolah sekitar 894 ton jerami dan 864 ton kotoran ternak setiap tahunnya di wilayah tersebut.
Limbah tersebut kemudian diproses menggunakan metode eco-inovasi menjadi berbagai produk, mulai dari pupuk kompos, bioetanol, hingga parfum ramah lingkungan bermerek Aruwa. Langkah ini sekaligus bertujuan mengurangi praktik pembakaran jerami secara terbuka yang selama ini menjadi sumber emisi dan polusi udara.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan solusi berkelanjutan bagi masyarakat. “SI Cadiak menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan masyarakat mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi,” ujar Roberth dalam keterangan tertulisnya.
Dampak Signifikan pada Lingkungan dan Kesehatan
Implementasi program Si Cadiak memberikan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan di wilayah Sumatera Barat. Berdasarkan data perusahaan, pengolahan limbah ini berhasil menurunkan emisi hingga 1.305 ton CO2e per tahun.
Selain dampak ekologis, program ini juga berpengaruh positif pada sektor kesehatan masyarakat. Berikut adalah rincian capaian program selama periode 2022 hingga 2025:
- Penurunan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 80 persen akibat berkurangnya pembakaran limbah.
- Pengurangan emisi karbon sebesar 1.305 ton CO2e per tahun.
- Pemanfaatan energi baru terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk operasional fasilitas.
Pemberdayaan Ekonomi dan Edukasi Masyarakat
Dari sisi finansial, pengelolaan limbah produktif ini memicu peningkatan pendapatan masyarakat Nagari Padang Toboh hingga 63 persen. Kenaikan ini didorong oleh diversifikasi produk serta efisiensi biaya pertanian melalui pemanfaatan limbah secara mandiri sebagai pengganti input kimia.
Untuk menjaga keberlanjutan program, Pertamina juga menghadirkan Learning Center UKASEMA sebagai pusat edukasi. Fasilitas ini didukung oleh energi dari PLTS dan berfungsi sebagai tempat pelatihan pengelolaan limbah serta pengembangan ekonomi lokal bagi warga setempat.
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pemenuhan kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Hal ini selaras dengan komitmen global terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta penanganan perubahan iklim.
Informasi lengkap mengenai perkembangan program pemberdayaan masyarakat ini disampaikan melalui pernyataan resmi Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga yang dirilis pada Selasa, 17 Februari 2026.
