Berita

Rupiah Tertekan ke Rp 16.786 pada 30 Januari 2026, Ekonom Sarankan Emas sebagai Instrumen Investasi Aman

Mata uang nasional rupiah kembali menunjukkan pelemahan setelah sempat menguat tipis. Pada Jumat, 30 Januari 2026, pukul 14.13 WIB, rupiah tercatat melemah 0.0068 persen ke level Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memicu diskusi mengenai strategi investasi yang tepat di tengah ketidakpastian pasar.

Rupiah Kembali Tertekan, Ekonom Peringatkan Risiko Koreksi Lanjutan

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa potensi pelemahan dan risiko koreksi lanjutan pada rupiah masih sangat mungkin terjadi. “Risiko koreksi masih tetap ada,” tutur Bhima saat dihubungi pada Jumat (30/1/2026).

Menurut Bhima, penguatan rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bersifat temporer atau sementara. Hal ini mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi yang mendukung penguatan tersebut belum sepenuhnya stabil.

Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah dan Dinamika Pasar Saham

Bhima menjelaskan bahwa salah satu faktor pendorong tertekannya nilai tukar rupiah adalah penguatan indeks dolar global yang kembali terjadi setelah sempat melemah. “Dollar index mulai menguat lagi sehari lalu,” sebutnya.

Selain faktor global, pelaku pasar juga masih menanti perkembangan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). “Pasar juga menunggu realisasi perbaikan indeks MSCI setelah Direktur BEI mundur,” lanjut Bhima.

Mundurnya Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Imam Rachman, disebut sebagai bentuk tanggung jawab atas tekanan signifikan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Terkait hal ini, Bhima menekankan pentingnya reformasi. “Tapi harus ada reformasi total di pengelolaan bursa saham,” tuturnya.

Emas sebagai Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Di tengah kondisi pelemahan rupiah, Bhima menuturkan bahwa instrumen emas dapat menjadi strategi investasi yang relevan. Ia menyarankan masyarakat untuk beralih ke emas batangan. “Sebaiknya beralih ke emas batangan, jika tetap ingin masuk ke saham pahami kondisi kebijakan pemerintah dan fundamental perusahaan,” ucap Bhima.

Meskipun harga emas kini mencetak rekor dan menembus lebih dari Rp 3 juta per gram, Bhima menilai instrumen ini masih berpeluang merangkak naik. Ia bahkan memprediksi harga emas bisa mencapai Rp 3,5 juta per gram pada tahun ini. “Iya (bisa beli sekarang) karena tahun ini bisa menembus hingga Rp 3,5 juta per gram,” beber Bhima.

Setidaknya ada tiga faktor pendorong yang membuat emas berpotensi mencapai angka tersebut:

  • Indeks ketidakpastian global yang meningkat memicu perpindahan aset ke safe haven, yaitu emas.
  • Bank sentral negara berkembang melakukan dedolarisasi dengan berpindah ke emas.
  • Ledakan AI, semikonduktor, dan data center membutuhkan mineral emas sebagai bahan bakunya.

Bhima menambahkan bahwa kemungkinan turunnya harga emas secara signifikan semakin kecil. “Iya semakin kecil turun (harga emas) secara signifikan. Peluangnya lebih besar bullish,” pungkas Bhima. Istilah bullish merujuk pada tren kenaikan harga aset secara berkelanjutan di pasar modal.

Daftar Harga Emas Terbaru per 30 Januari 2026

Berikut adalah harga emas per 30 Januari 2026 pukul 15.13 WIB, sebagaimana dilansir dari website Sahabat Pegadaian:

Galeri24

UkuranHarga
0.5 gramRp 1.680.000
1 gramRp 3.204.000
2 gramRp 6.311.000
5 gramRp 15.664.000
10 gramRp 31.244.000
25 gramRp 77.915.000
50 gramRp 155.707.000
100 gramRp 311.260.000
250 gramRp 776.240.000
500 gramRp 1.552.479.000
1.000 gramRp 3.104.956.000

UBS

UkuranHarga
0.5 gramRp 1.740.000
1 gramRp 3.219.000
2 gramRp 6.388.000
5 gramRp 15.785.000
10 gramRp 31.405.000
25 gramRp 78.359.000
50 gramRp 156.395.000
100 gramRp 312.666.000
250 gramRp 781.435.000
500 gramRp 1.561.036.000

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026.