Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi) belum merealisasikan pelepasan spektrum frekuensi tinggi atau millimeter band untuk layanan 5G hingga awal 2026. Kondisi ini memaksa operator seluler di Indonesia melakukan berbagai inovasi teknologi guna mengejar ketertinggalan rata-rata lima tahun dari operator global akibat keterbatasan sumber daya frekuensi.
Tantangan Biaya dan Keterbatasan Spektrum
Pemerintah dilaporkan masih mempertimbangkan besaran tarif spektrum frekuensi tinggi, yang memicu ketidakpastian di sektor industri. Masalah utama terletak pada tingginya biaya yang harus ditebus operator. Sebagai gambaran, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) sebelumnya harus membayar Rp600 miliar untuk 10 MHz di spektrum 2100 MHz, ditambah kewajiban upfront fee tahun pertama sebesar dua kali harga jual.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai beban biaya yang harus ditanggung operator jika pemerintah merilis spektrum 700 MHz selebar 90 MHz dan 2600 MHz selebar 160 MHz. Untuk menyiasatinya, sebagian besar operator memanfaatkan teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS) dengan menggunakan frekuensi 4G LTE yang sudah ada, meski kecepatan yang dihasilkan sering kali hanya stabil di kisaran 50 Mbps.
Telkomsel Fokus pada Layanan Hyper 5G
Telkomsel mengeklaim telah menghadirkan layanan Hyper 5G di 56 kota dengan dukungan 3.000 BTS 5G berbasis DSS. Hingga awal 2026, jumlah infrastruktur tersebut diperkirakan meningkat menjadi 5.000 BTS. Dari total 159,5 juta pelanggan, lebih dari 20 juta di antaranya merupakan pengguna layanan 5G.
Layanan Hyper 5G Telkomsel dilaporkan mampu mencapai kecepatan unduh hingga 500 Mbps dan unggah 100 Mbps. Fokus jangkauan saat ini mencakup pusat kota, area bandara, serta kota-kota satelit di sekitarnya guna memastikan kualitas koneksi yang optimal bagi pelanggan premium.
Ekspansi IOH dan Inovasi XL Smart
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) juga memperluas jangkauan 5G di kota-kota utama seperti Jakarta, Solo, Bandung, hingga Makassar. IOH mengandalkan 6.872 BTS 5G yang memanfaatkan spektrum tunggal 1800 MHz. Saat ini, IOH tercatat memiliki 91,9 juta pelanggan aktif setelah melakukan pembersihan kartu SIM yang tidak produktif.
Di sisi lain, XL Smart mengambil langkah berbeda dengan tidak menggunakan teknologi DSS. Mereka mengalokasikan spektrum 40 MHz di rentang 2300 MHz dengan teknologi Time Division Duplexing (TDD). Strategi ini telah diterapkan di 33 kota dan ditargetkan segera menjangkau 88 kota.
Integrasi Infrastruktur Pasca-Merger
Melalui integrasi BTS pasca-merger antara XL Axiata dan Smart Telecom, jumlah infrastruktur mereka berpeluang mencapai lebih dari 225.000 unit. Selain fokus pada teknologi TDD, terdapat pula kewajiban pembangunan 8.000 BTS baru di kawasan tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) untuk memeratakan akses informasi.
Informasi mengenai perkembangan infrastruktur dan kebijakan frekuensi ini merujuk pada laporan kinerja operator seluler dan rencana strategis kementerian terkait yang dirilis pada awal tahun 2026.
