Bitcoin (BTC) kembali memasuki fase volatilitas tinggi setelah sempat menyentuh angka 120.000 dollar AS pada 2025. Penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir memicu peringatan dari para analis mengenai potensi berlanjutnya tren bearish atau yang dikenal sebagai crypto winter.
Prediksi Penurunan Harga ke Level 40.000 Dollar AS
Chief Strategist Zacks Investment Research, John Blank, memperkirakan harga Bitcoin berpotensi turun hingga ke level 40.000 dollar AS dalam enam hingga delapan bulan ke depan. Prediksi ini didasarkan pada melemahnya permintaan, menurunnya likuiditas pasar, serta potensi tekanan jual dari pemegang institusional besar.
Bitcoin secara resmi memasuki bear market setelah mengalami penurunan hampir 37 persen dari puncaknya di level 126.000 dollar AS pada awal Februari 2026. Blank menjelaskan bahwa estimasi ini merujuk pada pola pergerakan harga historis dan siklus pasar yang berulang.
Karakteristik dan Durasi Crypto Winter
Secara historis, periode crypto winter biasanya berlangsung antara 12 hingga 18 bulan. John Blank menilai bahwa fase bearish saat ini kemungkinan masih berada pada tahap awal, sehingga tekanan penurunan harga diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Analisis dari Ned Davis Research bahkan menunjukkan skenario yang lebih konservatif, di mana Bitcoin berpotensi menyentuh angka 31.000 dollar AS. Data mereka mencatat bahwa dalam siklus penurunan besar, Bitcoin rata-rata mengalami koreksi sekitar 84 persen dari titik tertingginya.
Risiko Likuidasi dari Pemegang Korporasi Besar
Faktor lain yang mempercepat penurunan harga adalah potensi tekanan jual dari pemegang korporasi besar seperti Strategy. Perusahaan yang dipimpin Michael Saylor tersebut memiliki sekitar 713.502 Bitcoin atau setara 3 persen dari total suplai global.
CEO Strategy, Phong Le, menyatakan bahwa penjualan aset dapat dilakukan sebagai opsi terakhir jika rasio keuangan perusahaan turun di bawah ambang batas tertentu. Keputusan likuidasi oleh institusi besar ini dikhawatirkan akan mempengaruhi stabilitas harga secara drastis di pasar yang sedang lesu.
Melemahnya Likuiditas dan Dominasi Spekulasi
Data dari perusahaan analitik Kaiko menunjukkan bahwa market depth Bitcoin turun sekitar 30 persen dibandingkan level Oktober 2025. Kondisi likuiditas yang rendah ini menyebabkan harga bergerak lebih tajam karena terbatasnya jumlah pembeli dan penjual di pasar.
Chief Economic Advisor Allianz, Mohamed El-Erian, menambahkan bahwa volatilitas ini juga dipicu oleh dominasi investor jangka pendek atau tourist investors. Kelompok ini cenderung keluar-masuk pasar dengan cepat, berbeda dengan investor institusional yang melakukan adopsi secara lambat dan berkelanjutan.
Aksi Ambil Untung dan Perubahan Persepsi Ekonomi
Analis Anthony Pompliano mengidentifikasi aksi ambil untung (profit taking) sebagai salah satu penyebab utama koreksi setelah Bitcoin melampaui 100.000 dollar AS. Selain itu, ekspektasi inflasi global yang lebih rendah turut mengurangi daya tarik Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai atau emas digital.
Meskipun menghadapi tekanan, sejumlah pelaku industri seperti COO Bitcoin IRA, Chris Klein, menganggap siklus ini sebagai bagian normal dari perkembangan pasar. Informasi mengenai dinamika pasar kripto ini merujuk pada laporan analisis pasar dan pernyataan resmi para pakar ekonomi yang dirilis pada Februari 2026.
