Ariko Andikabina Soroti Keamanan Penggunaan Genteng di Wilayah Rawan Gempa dan Risiko Bangunan Tinggi
Pemerintah tengah mencanangkan program hunian dengan atap genteng secara nasional melalui inisiatif gentengisasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sebanyak 57,93 persen atau setara dengan 40.913.287 unit bangunan di Indonesia telah menggunakan material ini sebagai penutup atap utama.
Keamanan Genteng di Wilayah Rawan Gempa
Arsitek sekaligus pendiri Green Building Council Indonesia, Ariko Andikabina, menjelaskan bahwa tingkat keamanan penggunaan genteng pada hunian di wilayah rawan gempa sangat bergantung pada bentuk dan ketinggian bangunan tersebut. Menurutnya, penggunaan genteng pada bangunan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan risiko bahaya saat terjadi guncangan.
“Atap genteng pada bangunan lebih tinggi akan meningkatkan risiko cedera apabila ada reruntuhan genteng tersebut,” terang Ariko.
Ia menambahkan bahwa getaran gempa dapat memicu runtuhnya atap genteng secara tidak serentak. Material tersebut akan berjatuhan satu per satu, sehingga memperbesar potensi cedera bagi penghuni atau orang di sekitarnya. Besarnya risiko ini ditentukan oleh ketinggian tegel atap; semakin tinggi letaknya, maka semakin besar pula risiko yang ditimbulkan.
Teknik Pemasangan dan Kemiringan Ideal
Untuk meminimalisir risiko keruntuhan, Ariko menyarankan penerapan teknik pemasangan yang tepat agar atap tidak mudah runtuh saat terjadi gempa. Salah satu aspek teknis yang krusial adalah sudut kemiringan atap saat proses konstruksi dilakukan.
Aplikasi yang baik untuk atap genteng adalah memiliki kemiringan ideal minimal 30 derajat. Selain faktor keamanan struktur, kemiringan ini berfungsi memastikan air hujan mengalir turun dengan lancar serta menghindari efek kapilaritas yang dapat menyebabkan air merembes ke dalam bangunan melalui sela-sela atap.
Kelebihan dan Kekurangan Material Genteng
Genteng berbahan dasar tanah liat memiliki karakteristik termal yang lebih baik karena relatif lebih dingin dibandingkan material semen atau logam. Bentuk ujung genteng yang tidak rata juga menciptakan rongga yang berfungsi sebagai sirkulasi udara alami bagi hunian.
Namun, terdapat beberapa catatan teknis terkait penggunaan material ini sebagaimana dirangkum dalam poin-poin berikut:
- Kelebihan: Harga relatif terjangkau, bobot ringan untuk mengurangi beban struktur, serta memiliki kuat tekan sedang hingga tinggi.
- Kekurangan: Memerlukan ketelitian tinggi saat pemasangan reng untuk mencegah kebocoran, mudah berlumut jika tidak dilapisi glasur, dan memerlukan pola pemasangan zig-zag dengan sistem interlock.
Data Sebaran Pengguna Genteng di Indonesia
Data BPS menunjukkan penggunaan genteng di wilayah perkotaan mencapai 62,2 persen, sementara di pedesaan berada di angka 52,5 persen. Berikut adalah daftar wilayah dengan persentase penggunaan genteng tertinggi berdasarkan data tahun 2022:
- Yogyakarta: 95 persen (1.071.757 rumah tangga)
- Jawa Timur: 94 persen (10.618.673 rumah tangga)
- Jawa Tengah: 87 persen (8.636.044 rumah tangga)
- Lampung: 87 persen (2.023.598 rumah tangga)
- Jawa Barat: 87 persen (11.338.957 rumah tangga)
- Banten: 82 persen (2.455.887 rumah tangga)
- Bali: 81 persen (940.841 rumah tangga)
- Sumatera Selatan: 53 persen (1.117.356 rumah tangga)
- Nusa Tenggara Barat: 49 persen (751.900 rumah tangga)
- Jakarta: 42 persen (1.166.969 rumah tangga)
Informasi lengkap mengenai isu keamanan material bangunan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Ariko Andikabina dan data sektoral BPS yang dirilis pada Februari 2026.