Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusung misi strategis dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama dalam lawatan ini adalah memastikan kelanjutan kerja sama dengan ExxonMobil untuk pengelolaan Blok Cepu di Jawa Timur.
Rencana Perpanjangan Kontrak ExxonMobil
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa pemerintah berkeinginan agar kerja sama dengan ExxonMobil di Blok Cepu tetap berlanjut. Hal ini menjadi salah satu agenda prioritas Bahlil dalam membangun kemitraan sektor energi dengan pihak Amerika Serikat.
“Banyak ya, antara lain ya kita tetap memperpanjang untuk ExxonMobil,” ujar Laode saat ditemui di kompleks pabrik Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Kamis (19/2/2026).
ExxonMobil Cepu Limited saat ini memegang 45 persen hak partisipasi dalam pengelolaan Blok Cepu. Komposisi kepemilikan lainnya terbagi antara PT Pertamina EP Cepu sebesar 45 persen dan Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu milik daerah sebesar 10 persen.
Produksi Migas dan Cakupan Wilayah
Blok Cepu merupakan wilayah Kontrak Kerja Sama (KKS) yang mencakup tiga kabupaten, yakni Bojonegoro dan Tuban di Jawa Timur, serta Blora di Jawa Tengah. Wilayah ini memiliki peran vital dalam ketahanan energi nasional dengan angka produksi yang signifikan.
| Kategori Data | Detail Informasi |
| Rata-rata Produksi 2025 | 170.000 – 180.000 barel per hari |
| Lokasi Wilayah Kerja | Bojonegoro, Tuban, Blora |
| Pemegang Hak Partisipasi | ExxonMobil (45%), Pertamina (45%), BUMD (10%) |
Kesepakatan Dagang Senilai Rp 250 Triliun
Selain membahas Blok Cepu, pertemuan bilateral di Amerika Serikat juga mencakup negosiasi tarif impor dan kerja sama teknologi. Presiden Prabowo dijadwalkan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang melibatkan komitmen pembelian produk energi senilai 15 miliar dollar AS atau setara Rp 250 triliun.
Komitmen tersebut mencakup pembelian liquefied petroleum gas (LPG), minyak mentah, dan bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat. Bahlil menegaskan bahwa kolaborasi ini harus tetap berpijak pada kepentingan nasional dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Informasi lengkap mengenai misi diplomatik dan kerja sama energi ini merujuk pada keterangan resmi Kementerian ESDM dan pernyataan narasumber terkait selama kunjungan di Washington D.C.
