PT Bank Permata Tbk (BNLI) melaporkan pencapaian laba bersih sebesar Rp 3,6 triliun sepanjang tahun buku 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 0,56 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,56 triliun. Kenaikan laba tersebut didorong oleh total pendapatan yang tumbuh 3,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 12,6 triliun.
Peningkatan Pendapatan dan Fundamental Perusahaan
Kontributor utama dalam pertumbuhan pendapatan perseroan berasal dari pendapatan non-bunga yang melonjak signifikan sebesar 34,1 persen (yoy) menjadi Rp 2,6 triliun. Direktur Utama Bank Permata, Meliza M Rusli, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari fundamental perusahaan yang resilien serta keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian.
“Kinerja kami mencerminkan fundamental yang resilien terlihat dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah,” ujar Meliza dalam keterangan resmi pada Rabu (12/2/2026).
Ekspansi Kredit dan Kualitas Aset
Dari sisi intermediasi, Bank Permata menyalurkan kredit sebesar Rp 163,3 triliun hingga akhir Desember 2025, atau tumbuh 5,5 persen (yoy). Segmen korporasi menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 11,2 persen (yoy) menjadi Rp 99,6 triliun. Meskipun kredit tumbuh, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang stabil di level 2,1 persen.
Perseroan juga mencatatkan perbaikan pada rasio loan at risk (LAR) yang turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 5,5 persen. Sebagai langkah antisipasi risiko, Bank Permata menerapkan pencadangan konservatif dengan rasio NPL coverage sebesar 356 persen dan LAR coverage sebesar 171 persen.
Likuiditas dan Struktur Permodalan yang Kuat
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 3,9 persen (yoy) menjadi Rp 192,8 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 20,1 persen, sehingga rasio CASA meningkat dari 55,3 persen menjadi 63,9 persen. Berikut adalah rincian indikator likuiditas dan permodalan Bank Permata pada akhir 2025:
| Indikator | Rasio (%) |
| Loan-to-Deposit Ratio (LDR) | 84,5% |
| Liquidity Coverage Ratio (LCR) | 296,5% |
| Net Stable Funding Ratio (NSFR) | 126,8% |
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 34,6% |
| Common Equity Tier-1 (CET-1) | 26,6% |
Kinerja Positif Unit Usaha Syariah
Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Permata turut memberikan kontribusi positif dengan laba operasional sebelum provisi sebesar Rp 785,3 miliar, tumbuh 8,1 persen (yoy). Pendapatan setelah distribusi bagi hasil juga meningkat 6,4 persen (yoy). Simpanan nasabah di UUS mencapai Rp 27,0 triliun dengan rasio CASA yang sangat kuat di level 73,6 persen, melampaui rata-rata industri perbankan syariah nasional.
Informasi lengkap mengenai kinerja keuangan tahunan ini disampaikan melalui pernyataan resmi PT Bank Permata Tbk yang dirilis pada 12 Februari 2026 melalui saluran komunikasi resmi perseroan.
