Finansial

BCA Terapkan Proteksi Berlapis dan Simulasi Siber Guna Lindungi Nasabah dari Kejahatan Daring

Advertisement

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperkuat sistem pertahanan siber melalui integrasi tiga pilar utama: sumber daya manusia (people), proses (process), dan teknologi (technology). Langkah strategis ini diambil guna merespons peningkatan kasus kejahatan daring seperti phishing dan social engineering yang menyasar sektor perbankan.

Penguatan Kapabilitas SDM dan Simulasi Keamanan

SVP IT Security BCA, Ferdinan Marlim, menjelaskan bahwa aspek manusia menjadi fondasi awal dalam memproteksi sistem. BCA secara rutin membangun kesadaran keamanan siber di seluruh level organisasi, mulai dari karyawan hingga jajaran direksi.

“Karena tahu phishing itu berbahaya, kami melakukan simulasi untuk mengetes para karyawan, melihat berapa banyak orang yang mengeklik dan terpancing situs palsu dalam simulasi,” ujar Ferdinan dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).

Selain simulasi, BCA mendorong sertifikasi profesional bagi tim keamanan dengan mengadopsi kerangka kerja internasional Cybersecurity Framework dari National Institute of Standards and Technology (NIST). Kerangka ini mencakup fungsi identifikasi, perlindungan, deteksi, respons, pemulihan, hingga tata kelola risiko.

Implementasi Teknologi dan Monitoring 24 Jam

Dari sisi teknologi, BCA menerapkan sistem proteksi berlapis yang telah mengantongi sertifikasi ISO terkait keamanan sistem informasi, jasa pembayaran, serta perlindungan data pribadi. Perseroan juga mengoperasikan Security Monitoring Center yang bekerja memantau potensi ancaman siber selama 24 jam penuh.

Ferdinan menegaskan bahwa alokasi sumber daya untuk pengamanan siber menjadi prioritas signifikan bagi perusahaan. Hal ini dilakukan demi menjaga integritas data dan keamanan transaksi seluruh nasabah di tengah ancaman Distributed Denial of Service (DDoS) yang kian kompleks.

Advertisement

Prosedur Penanganan Keluhan dan Koordinasi Antarbank

SVP Wholesale Transaction Banking Product Development BCA, Martinus Robert Winata, menambahkan bahwa aspek proses memastikan setiap langkah transaksi berjalan sesuai prosedur resmi. BCA juga berkomitmen mendampingi nasabah yang menjadi korban kejahatan daring melalui proses investigasi yang ketat.

Jika terjadi kasus di mana dana nasabah dialihkan ke bank lain, BCA akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan terkait untuk upaya pemulihan seoptimal mungkin. “Apalagi, pelaku biasanya sudah andal dan langsung mengirim dana yang diambil dari nasabah ke bank lain, untuk kemudian dananya ditarik,” kata Martinus.

Imbauan Keamanan bagi Nasabah

BCA turut mengingatkan nasabah untuk menjaga kerahasiaan data pribadi seperti PIN, kata sandi, dan kode autentikasi. Nasabah diminta memahami fungsi alat keamanan seperti KeyBCA, terutama penggunaan Appli 1 dan Appli 2 pada layanan Klik BCA Bisnis.

Penyalahgunaan kode OTP atau Appli 2 sering kali menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk mengautentikasi transaksi ilegal. Oleh karena itu, nasabah diharapkan tidak sembarangan memberikan kode tersebut kepada pihak mana pun yang memintanya.

Informasi lengkap mengenai strategi keamanan ini disampaikan melalui pernyataan resmi PT Bank Central Asia Tbk yang dirilis pada 19 Februari 2026.

Advertisement