Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Siklon Tropis Mitchell kini berada di perairan barat Australia dan terus bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Meski intensitasnya sempat mencapai kategori 3, sistem badai ini dipastikan tidak lagi memberikan dampak cuaca signifikan bagi tanah air per Minggu (8/2/2026).
Asal-usul dan Perkembangan Siklon Mitchell
Siklon Tropis Mitchell sebelumnya berkembang dari Bibit Siklon Tropis 98P. Sistem ini mencapai intensitas siklon tropis pada Jumat (6/2/2026) pukul 19.00 WIB dan sempat terpantau berada di perairan barat Australia pada Sabtu malam.
Prakirawan TCWC Jakarta BMKG, Afif Shalahuddin, menjelaskan bahwa posisi siklon saat ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 65 knot atau 120 km/jam. “Siklon tropis tersebut berada dalam kategori 3, dengan pergerakan ke arah barat hingga barat daya,” ujar Afif pada Minggu (8/2/2026).
Dampak Gelombang Laut di Wilayah Indonesia
Meskipun kini menjauh, BMKG mencatat adanya dampak tidak langsung berupa gelombang tinggi yang berlaku hingga Minggu (8/2/2026) pukul 19.00 WIB. Masyarakat diimbau memperhatikan kondisi perairan berikut:
- Gelombang Tinggi 1,25-2,5 meter (Moderate Sea): Terjadi di Laut Sawu dan Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur.
- Gelombang Tinggi 2,5-4,0 meter (Rough Sea): Terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga Nusa Tenggara Barat.
Prediksi Pelemahan Intensitas Badai
Afif menegaskan bahwa keberadaan Siklon Tropis Mitchell sudah berada di luar wilayah monitoring TCWC Jakarta. Dalam 24 jam ke depan, intensitas badai diprediksi akan menurun ke kategori 2 saat memasuki wilayah daratan pesisir barat Australia.
“Siklon Tropis Mitchell saat ini tidak lagi memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan wilayah perairan di Indonesia seiring arah pergerakannya menjauhi wilayah Indonesia,” pungkas Afif.
Informasi lengkap mengenai perkembangan cuaca ini disampaikan melalui pernyataan resmi BMKG dan kanal informasi TCWC Jakarta pada Minggu, 8 Februari 2026.
