Berita

BMKG Sleman Ungkap Dua Sesar Baru di Yogyakarta, Berpotensi Picu Gempa Magnitudo 6 Lebih

Sebuah unggahan di media sosial X yang menyebutkan adanya dua sesar lain selain Sesar Opak di Yogyakarta, yakni Sesar Dengkeng dan Sesar Tambak Bayan, telah dikonfirmasi kebenarannya oleh Stasiun Geofisika BMKG Sleman. Kedua sesar ini disebut berpotensi memicu gempa bumi dengan kekuatan di atas magnitudo 6, berdasarkan Peta Potensi Gempa Bumi dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) tahun 2024.

Konfirmasi BMKG dan Identifikasi Sesar Baru

Stasiun Geofisika BMKG Sleman mengonfirmasi keberadaan dua sesar lain di wilayah Yogyakarta selain Sesar Opak. Konfirmasi ini merujuk pada Peta Potensi Gempa Bumi dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) tahun 2024. Awalnya, hanya Sesar Opak yang terdeteksi di Yogyakarta, namun pembaruan terbaru menemukan total tiga sesar aktif.

Dua sesar baru tersebut, Sesar Dengkeng dan Sesar Tambak Bayan, muncul melalui penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti BRIN, Bapak Mudrik Daryono pada tahun 2023. Kajian lanjutan oleh tim BRIN dan penyusun Peta Potensi Gempa Bumi kemudian memasukkan sesar-sesar baru ini sebagai sumber gempa di Yogyakarta.

Potensi Gempa dan Karakteristik Sesar

Berdasarkan catatan PuSGeN, Sesar Dengkeng berpotensi menyebabkan gempa dengan guncangan maksimal Magnitudo (M) 6,2. Sesar ini berada di dekat Prambanan dan memanjang hingga selatan Klaten, Jawa Tengah, dengan dimensi panjang 15 kilometer dan lebar 20 kilometer.

Sementara itu, Sesar Tambak Bayan, yang juga dikenal sebagai Sesar Mataram, berpotensi memicu gempa dengan guncangan maksimal M 6,1. Sesar ini memanjang dari Kalasan hingga utara Kota Yogyakarta, memiliki dimensi panjang 14 kilometer dan lebar 20 kilometer.

Sesar Opak sendiri merupakan sumber gempa M 4,5 yang mengguncang Yogyakarta pada Selasa (27/1/2026) siang, serta gempa besar M 6,4 pada 27 Mei 2006 silam. Stasiun Geofisika Sleman menekankan bahwa kapan terjadinya gempa akibat sesar-sesar ini tidak dapat diprediksi, dan kekuatan yang disebutkan adalah potensi maksimal berdasarkan dimensi patahan.

Imbauan BMKG untuk Kewaspadaan dan Mitigasi

Stasiun Geofisika BMKG Sleman mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi gempa dengan mengikuti informasi dari sumber terpercaya. Masyarakat diminta untuk tidak percaya hoaks dan aktif melakukan literasi mengenai mitigasi bencana.

BMKG juga tidak memungkiri adanya potensi gempa besar di Yogyakarta, seperti yang terjadi pada tahun 2006 akibat pergerakan sesar. Selain itu, masyarakat diimbau untuk membangun bangunan tahan gempa sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku guna mengurangi risiko dampak bencana.

Informasi mengenai potensi sesar aktif di Yogyakarta ini disampaikan melalui konfirmasi resmi Stasiun Geofisika BMKG Sleman pada Rabu, 28 Januari 2026, merujuk pada Peta Potensi Gempa Bumi PuSGeN 2024.