BNP Paribas memproyeksikan harga emas dunia berpotensi menembus level 6.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 100,92 juta per ounce pada tahun 2026. Proyeksi ini muncul di tengah reli tajam sejak awal tahun yang disertai volatilitas tinggi akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian global.
Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas, David Wilson, menyatakan bahwa kenaikan harga emas menuju level tersebut masuk akal dalam konteks makroekonomi saat ini. Ia menilai kombinasi inflasi yang masih tinggi, meningkatnya risiko geopolitik, serta permintaan bank sentral menjadi fondasi utama yang mendukung tren penguatan harga logam mulia tersebut.
Rekor Tertinggi dan Koreksi Tajam di Awal 2026
Sejak Januari 2026, harga emas menunjukkan penguatan signifikan dengan melampaui level psikologis 5.000 dollar AS per ounce. Data pasar menunjukkan harga spot emas intraday sempat menyentuh kisaran 5.100 hingga 5.180 dollar AS per ounce, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik pada awal tahun.
Namun, harga emas mengalami koreksi tajam pada awal Februari 2026 dengan penurunan lebih dari 1.000 dollar AS hanya dalam hitungan hari. Perubahan persepsi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi pemicu utama aksi jual tersebut.
Dampak Kebijakan The Fed dan Penguatan Dollar AS
Nominasi Kevin Warsh sebagai pimpinan The Fed menggantikan Jerome Powell memberikan sentimen hawkish yang memperkuat posisi dollar AS. Penguatan mata uang tersebut menekan harga emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.
Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa meskipun terjadi volatilitas, faktor fundamental tetap mendukung emas sebagai aset lindung nilai. Tingkat utang global yang meningkat dan inflasi yang berada di atas target bank sentral menjadi alasan utama investor melakukan diversifikasi portofolio.
“Inflasi tetap jauh di atas target, tingkat utang meningkat, dan investor terus memandang logam mulia sebagai cara untuk melakukan diversifikasi dari saham, obligasi, dan mata uang fiat,” ujar Melek.
Faktor Fundamental dan Dinamika Permintaan Global
Selain kebijakan moneter, terdapat beberapa faktor kunci yang mendukung proyeksi harga emas ke depan:
- Pembelian Bank Sentral: Permintaan institusional tetap kuat dalam dua tahun terakhir, menciptakan batas bawah harga (price floor) yang lebih tinggi.
- Risiko Geopolitik: Konflik regional dan ketegangan perdagangan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
- Permintaan Pasar Asia: Minat beli dari pasar China dan India tetap tinggi, terutama saat terjadi koreksi harga di pasar global.
- Aliran Dana ETF: Arus masuk dana ke exchange-traded fund berbasis emas mencerminkan kepercayaan investor jangka panjang.
Informasi lengkap mengenai proyeksi harga emas ini disampaikan berdasarkan laporan strategi komoditas BNP Paribas dan data pasar global yang dirilis pada Februari 2026.
