Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yohanes Galih Adhiyoga, tengah fokus pada pengembangan teknologi jaringan komunikasi generasi keenam atau 6G. Riset ini secara spesifik mendalami antena mikrostrip single layer dan multilayer yang dirancang dengan dimensi sangat kecil agar dapat diintegrasikan ke dalam perangkat telepon seluler.
“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat,” kata Yohanes pada Rabu, 18 Februari 2026, sebagaimana dikutip dari situs resmi BRIN pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Pengembangan Antena 6G untuk Perangkat Seluler
Yohanes menjelaskan bahwa satu perangkat modern umumnya berisi beberapa antena, seperti antena seluler, WiFi, dan Bluetooth. Oleh karena itu, desain antena 6G harus mempertimbangkan integrasi berbagai fungsi tersebut dalam ruang yang terbatas.
Proses penelitian melibatkan beberapa tahapan krusial, mulai dari simulasi, optimasi, fabrikasi, hingga pengukuran yang dilakukan di laboratorium. “Makanya, kita kemarin ada pengadaan di 110 GHz. Jadi, antena-antena itu nanti diuji sampai frekuensi setinggi itu,” jelas Yohanes.
Pengukuran yang telah dilakukan meliputi s-parameter, pola radiasi, dan karakteristik lainnya. Studi awal ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi 6G yang ke depan berpotensi memanfaatkan frekuensi millimeter-wave di Indonesia.
Inovasi Phased Array untuk Komunikasi Satelit
Selain antena 6G untuk perangkat seluler, Yohanes dan tim juga mengembangkan antena untuk komunikasi satelit (SATCOM). Proyek ini diawali dengan pembuatan prototipe antena untuk memastikan terjalinnya komunikasi yang stabil antara satelit pada orbit geostasioner dengan stasiun bumi (ground station).
Sebagai pendukung, tim riset PRT BRIN mengembangkan sistem phased array, yang mengadopsi konsep serupa dengan teknologi Starlink. Sistem ini memungkinkan kendali arah pancaran sinyal antena secara elektronik tanpa memerlukan pergerakan mekanis.
“Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Hal ini penting karena satelit orbit rendah memiliki pergerakan yang cepat, sehingga antena juga harus mampu mengikuti pergerakan satelit tersebut,” terang Yohanes.
Informasi mengenai riset pengembangan teknologi 6G dan antena SATCOM ini disampaikan melalui pernyataan resmi BRIN yang dirilis pada Sabtu, 21 Februari 2026.
