Sains

China Ungkap Keberhasilan Transformasi Gurun Taklamakan Menjadi Penyerap Karbon Melalui Miliaran Pohon

Advertisement

Pemerintah China mencatatkan pencapaian signifikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui proyek rekayasa ekologi ambisius di Gurun Taklamakan. Wilayah yang sebelumnya dijuluki sebagai biological void atau kehampaan biologis tersebut kini dilaporkan telah bertransformasi menjadi carbon sink, yakni wilayah yang menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dibandingkan yang dilepaskannya.

Gurun Taklamakan merupakan salah satu gurun terbesar dan terkering di dunia dengan luas mencapai 337.000 kilometer persegi. Sejak tahun 1950-an, wilayah ini terus mengalami perluasan akibat urbanisasi dan ekspansi lahan pertanian yang memicu badai pasir serta degradasi tanah secara masif.

Proyek Tembok Hijau Raksasa Sejak 1978

Untuk mengatasi ancaman desertifikasi, China meluncurkan Three-North Shelterbelt Program atau yang dikenal sebagai Great Green Wall (Tembok Hijau Raksasa) pada tahun 1978. Program ini menargetkan penanaman miliaran pohon hingga tahun 2050 guna memulihkan ekosistem di wilayah utara China.

Hingga saat ini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam di kawasan tersebut. Pada tahun 2024, otoritas terkait mengumumkan bahwa vegetasi telah berhasil mengelilingi Gurun Taklamakan sepenuhnya. Langkah ini meningkatkan tutupan hutan nasional China dari sekitar 10 persen pada tahun 1949 menjadi lebih dari 25 persen pada saat ini.

Temuan Ilmiah Penyerapan Karbon

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PNAS pada 19 Januari mengungkapkan bahwa vegetasi di tepi Gurun Taklamakan kini berfungsi sebagai penyerap CO2 yang stabil. Para peneliti menganalisis data satelit selama 25 tahun terakhir serta model global Carbon Tracker dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Yuk Yung, profesor ilmu planet dari Caltech sekaligus ilmuwan senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, memberikan penjelasannya terkait temuan ini.

Advertisement

“Untuk pertama kalinya, kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering paling ekstrem, menunjukkan kemungkinan mengubah gurun menjadi carbon sink dan menghentikan desertifikasi,” ujar Yung.

Mekanisme Fotosintesis dan Dampak Musiman

Data menunjukkan bahwa selama musim basah antara Juli hingga September, curah hujan di Taklamakan meningkat hingga 2,5 kali lipat dibandingkan musim kering. Kondisi ini memicu peningkatan kepadatan vegetasi dan aktivitas fotosintesis yang berdampak langsung pada penurunan kadar CO2 di atmosfer di atas gurun.

Tercatat kadar CO2 turun dari 416 parts per million (ppm) pada musim kering menjadi 413 ppm pada musim basah. Penurunan ini membuktikan adanya penyerapan karbon aktif oleh tanaman, yang dinilai lebih stabil dibandingkan penyimpanan karbon dalam pasir gurun yang rentan terlepas kembali ke atmosfer saat suhu meningkat.

Potensi Implementasi Global

Transformasi di Gurun Taklamakan kini menjadi sorotan dunia sebagai model potensial untuk mengatasi krisis iklim di wilayah gersang lainnya. Jika pendekatan ini terbukti berkelanjutan dalam jangka panjang, proyek serupa dapat diadaptasi untuk wilayah gurun besar lainnya di dunia.

  • Gurun Sahara di Afrika
  • Wilayah gurun di Timur Tengah
  • Kawasan kering di Australia

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa rekayasa ekologi skala besar yang didasarkan pada pemantauan ilmiah dapat memberikan dampak nyata dalam menstabilkan bukit pasir sekaligus menciptakan sistem penyimpanan karbon yang berkelanjutan.

Advertisement