Duta Nasional UNICEF Indonesia, Cinta Laura, memberikan tanggapan mendalam terkait kasus tragis yang menimpa YBR, seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak tersebut dilaporkan mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga yang membuatnya tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.
Dampak Psikologis Kemiskinan pada Anak
Cinta Laura mengaku sangat terkejut saat mendengar kabar tersebut. Ia menyoroti bagaimana kemiskinan dapat melahirkan rasa malu yang mendalam pada diri seorang anak hingga berujung pada keputusan fatal. Menurutnya, beban mental akibat kondisi ekonomi seharusnya tidak menjadi tanggungan anak-anak di usia sekolah.
“Bukan hanya karena seorang anak mampu mengakhiri hidupnya sendiri, tapi karena alasan di baliknya. Rasa malu yang lahir dari kemiskinan,” ujar Cinta saat ditemui di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026). Lulusan Columbia University ini menegaskan bahwa kenyataan tersebut sangat mengusik nuraninya.
Komitmen Perubahan Sistemik UNICEF Indonesia
Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, turut menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. Ia menegaskan bahwa kejadian ini merupakan peringatan keras bagi semua pihak untuk memastikan sistem perlindungan anak dan layanan sosial berjalan optimal di seluruh wilayah Indonesia.
Maniza menyatakan bahwa UNICEF akan melipatgandakan upaya kolaboratif agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Fokus utama terletak pada penguatan layanan dan sistem pendukung bagi anak-anak yang berada dalam kondisi rentan. “Ini adalah pengingat yang sangat menyakitkan bahwa semua layanan dan sistem perlu beroperasi sebaik mungkin,” tambahnya.
Informasi lengkap mengenai komitmen perlindungan anak ini disampaikan melalui pernyataan resmi Cinta Laura dan UNICEF Indonesia dalam acara pelantikan duta nasional pada 10 Februari 2026.
