Ketergantungan terhadap impor kini menjadi isu strategis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan risiko gangguan rantai pasok dunia. Berdasarkan data terbaru dari Bank Dunia yang dirilis melalui VisualCapitalist pada Selasa (3/2/2026), sejumlah negara mencatatkan nilai impor yang jauh melampaui kapasitas produksi domestik mereka.
Hong Kong dan Peran Pusat Perdagangan Global
Hong Kong menempati posisi pertama sebagai wilayah dengan tingkat ketergantungan impor tertinggi di dunia, mencapai 178 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka yang melebihi total output ekonomi ini disebabkan oleh status Hong Kong sebagai pusat pelayaran dan perdagangan internasional utama.
Sebagai hub logistik, sebagian besar barang yang masuk ke Hong Kong diproses untuk diekspor kembali ke negara lain. Pola serupa juga terlihat pada pusat keuangan dan perdagangan lainnya seperti Luksemburg yang mencatatkan rasio 160 persen dan Singapura dengan 144 persen.
Karakteristik Negara dengan Impor Tinggi
Data menunjukkan bahwa 26 dari 30 negara dalam daftar ini memiliki jumlah penduduk di bawah 10 juta jiwa. Negara-negara kepulauan kecil seperti Nauru, Seychelles, dan Kiribati bahkan mencatat nilai impor di atas 100 persen PDB karena keterbatasan sumber daya alam dan kapasitas produksi domestik.
Selain faktor geografis, ketahanan pangan menjadi isu krusial bagi negara seperti Uni Emirat Arab (UEA). Sekitar 90 persen kebutuhan pangan UEA dipasok dari luar negeri, menjadikannya sangat rentan terhadap dinamika distribusi global. Sementara itu, Slowakia yang berstatus landlocked atau tanpa akses laut juga masuk dalam daftar akibat keterbatasan jalur logistik.
Daftar 30 Negara dengan Rasio Impor Tertinggi
Berikut adalah rincian 30 negara dengan rasio impor terhadap PDB tertinggi berdasarkan data resmi Bank Dunia:
| Negara | Rasio Impor terhadap PDB |
|---|---|
| Hong Kong | 178% |
| Luksemburg | 160% |
| San Marino | 155% |
| Singapura | 144% |
| Djibouti | 115% |
| Nauru | 111% |
| Seychelles | 103% |
| Irlandia | 102% |
| Kiribati | 102% |
| Malta | 100% |
| Somalia | 99% |
| Lesotho | 99% |
| Siprus | 93% |
| Uni Emirat Arab | 92% |
| Slowakia | 86% |
| Timor Leste | 85% |
| Kirgistan | 84% |
| Vietnam | 84% |
| Kuba | 82% |
| Kepulauan Marshall | 82% |
| Palau | 80% |
| Belgia | 80% |
| Mauritius | 78% |
| Maladewa | 78% |
| Armenia | 76% |
| Aruba | 76% |
| Estonia | 75% |
| Slovenia | 75% |
| Makedonia Utara | 75% |
| Libanon | 74% |
Informasi mengenai peringkat ketergantungan impor global ini dihimpun berdasarkan laporan Bank Dunia yang dipublikasikan melalui kanal resmi VisualCapitalist.
