Sains

Evolusi dan Gaya Hidup: Mengapa Tubuh Manusia Dirancang secara Biologis untuk Lari Jarak Jauh

Advertisement

Manusia secara biologis memiliki dorongan alami untuk bergerak sejak dalam kandungan hingga dewasa. Fenomena tren lari modern seperti maraton dan fun run sebenarnya berakar pada sejarah evolusi jutaan tahun yang membentuk anatomi tubuh manusia untuk bertahan hidup.

Hipotesis Lari Ketahanan dan Strategi Berburu Purba

Para ilmuwan mengemukakan Endurance Running Hypothesis yang menyatakan bahwa anatomi manusia berevolusi untuk mendukung lari ketahanan, bukan sekadar kecepatan singkat. Bagi nenek moyang manusia, kemampuan berlari jauh merupakan instrumen penting dalam strategi bertahan hidup yang disebut persistence hunting.

Strategi perburuan gigih ini mengandalkan konsistensi untuk mengejar mangsa selama berjam-jam di bawah terik matahari. Meski hewan seperti kijang berlari lebih cepat, manusia unggul dalam ketahanan fisik yang memungkinkan mereka terus bergerak hingga mangsa mengalami kelelahan ekstrem akibat panas berlebih.

Adaptasi Anatomi Tubuh Manusia

Tubuh manusia memiliki sejumlah fitur biologis unik yang mendukung aktivitas lari jarak jauh secara efisien dibandingkan mamalia lainnya. Berikut adalah beberapa adaptasi anatomi utama tersebut:

  • Sistem Pendingin Efisien: Manusia memiliki jutaan kelenjar keringat dan kulit tanpa bulu tebal yang memungkinkan penguapan panas secara optimal saat bergerak lama.
  • Tendon Achilles: Struktur tendon yang panjang dan elastis berfungsi seperti pegas, menyimpan energi saat kaki menyentuh tanah dan melepaskannya untuk dorongan ke depan.
  • Otot Gluteus Maximus: Otot bokong besar ini sangat aktif saat berlari untuk menjaga stabilitas tubuh agar tidak terjatuh ke depan.
  • Bipedalisme: Berjalan dengan dua kaki memisahkan mekanisme pernapasan dari langkah kaki, sehingga manusia dapat mengatur ventilasi udara secara independen.

Transformasi Lari Menjadi Budaya Populer

Dalam satu dekade terakhir, aktivitas lari telah bergeser dari sekadar fungsi biologis menjadi fenomena budaya dan identitas gaya hidup. Sepatu lari kini tidak hanya digunakan di lintasan atletik, tetapi juga menjadi bagian dari fesyen harian yang mencerminkan karakter penggunanya.

Advertisement

Lari kini dipandang sebagai ritual kesehatan, ajang sosialisasi komunitas, hingga medium refleksi diri di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Desain perlengkapan lari yang semakin responsif dan stylish membuat batas antara performa olahraga dan ekspresi seni semakin kabur.

Pameran The Art of Fast di Jakarta

Eksistensi lari sebagai budaya dirayakan dalam acara “The Art of Fast” yang digelar adidas Indonesia pada 14–15 Februari 2025 di Mbloc, Jakarta. Acara ini menampilkan kolaborasi fotografer Alif Ghifari dan Bill Satya yang mengabadikan esensi lari dari perspektif berbeda.

Alif Ghifari menjadikan pelari nasional Atjong Tio Purwanto sebagai subjek untuk menangkap ketegangan fisik, sementara Bill Satya mendokumentasikan energi kolektif komunitas adidas Runners Jakarta. Melalui pameran ini, lari ditegaskan kembali sebagai bagian tak terpisahkan dari kisah manusia, dari savana purba hingga jalanan kota modern.

Advertisement