Kebakaran hebat melanda gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kota Tangerang Selatan, pada Senin (9/2/2026). Insiden yang berlangsung selama hampir 12 jam tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga memicu pencemaran lingkungan yang berdampak pada ekosistem air dan udara di sekitar lokasi kejadian.
Kronologi dan Penanganan Pemadaman
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangerang Selatan, Omay Komarudin, menjelaskan bahwa api mulai berkobar sekitar pukul 04.30 WIB. Untuk memadamkan api, sebanyak 70 personel diterjunkan ke lokasi dengan dukungan 14 unit mobil pemadam kebakaran serta dua unit tangki penyuplai air.
Proses pemadaman berlangsung sulit dan memakan waktu lama karena gudang tersebut menyimpan sekitar 15 hingga 20 ton material pestisida. Api baru dinyatakan padam sepenuhnya pada pukul 16.00 WIB setelah petugas bekerja secara bergantian lintas sif selama hampir setengah hari.
Dampak Pencemaran Lingkungan dan Kesehatan
Komandan Pleton (Danton) Alpha Damkar Tangsel, Gunawan, mengungkapkan bahwa asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut bersifat beracun. Para petugas di lapangan dilaporkan mengalami gangguan kesehatan saat proses pemadaman berlangsung.
- Sesak napas akibat paparan asap kimia.
- Iritasi kulit yang menyebabkan rasa gatal.
- Mata perih akibat material kimia yang terbakar.
Selain polusi udara, limbah cair dari sisa pemadaman yang bercampur zat kimia mengalir ke gorong-gorong dan bermuara di Sungai Jalatreng, Rawabuntu. Dampaknya, ratusan ikan ditemukan mati mengapung di aliran sungai yang mengarah ke wilayah BSD tersebut sejak Senin pagi.
Kendala Teknis dan Risiko Ledakan
Petugas pemadam kebakaran menghadapi tantangan teknis karena material kimia berbahaya tidak dapat dipadamkan dengan metode penyiraman air biasa. Guyuran air justru berisiko memicu reaksi kimia yang memperbesar kobaran api. Sebagai solusi, petugas menggunakan tiga truk pasir untuk menutup titik-titik api.
Danton Damkar Tangerang Selatan, Sahroni, menambahkan adanya potensi bahaya dari kemasan pestisida. “Kaleng pestisida kalau panas bisa menimbulkan letusan. Bukan ledakan besar, tapi tetap berbahaya, makanya pemadaman dilakukan pelan-pelan,” ujarnya.
Kerugian Materiil dan Penyelidikan Polisi
Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 2 miliar. Kapolsek Cisauk, AKP Dhady Arsya, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa lima orang saksi untuk mendalami penyebab pasti kebakaran.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa kebakaran dipicu oleh hubungan arus pendek listrik atau korsleting di dalam area gudang. Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan validitas penyebab insiden tersebut.
Informasi lengkap mengenai penanganan dampak lingkungan dan hasil penyelidikan ini merujuk pada pernyataan resmi Dinas Pemadam Kebakaran Tangerang Selatan serta Kepolisian Sektor Cisauk yang dirilis pada Senin, 9 Februari 2026.
