Raksasa teknologi International Business Machines (IBM) mengambil langkah strategis dengan berencana melipatgandakan perekrutan karyawan tingkat pemula atau fresh graduate hingga tiga kali lipat di Amerika Serikat pada tahun 2026. Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran global mengenai potensi kecerdasan buatan (AI) yang dianggap dapat menggantikan peran pekerja manusia di sektor kantoran.
Transformasi Peran Karyawan di Era AI
Kepala Sumber Daya Manusia IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan perombakan total pada deskripsi pekerjaan untuk karyawan baru. Meskipun AI mampu menangani sebagian besar tugas dasar, IBM melihat adanya kebutuhan akan nilai nyata yang hanya bisa dibawa oleh individu melalui pola kerja yang berbeda.
Perubahan ini terlihat pada divisi pengembangan perangkat lunak, di mana software developer kini lebih fokus berinteraksi langsung dengan pelanggan daripada melakukan coding rutin yang telah diambil alih oleh AI. Di departemen SDM, staf pemula kini bertugas mengawasi dan mengoreksi output dari chatbot perusahaan guna memastikan akurasi informasi.
Investasi Talenta untuk Masa Depan
LaMoreaux menegaskan bahwa memangkas rekrutmen lulusan baru mungkin memberikan penghematan jangka pendek, namun berisiko memicu kelangkaan manajer tingkat menengah di masa depan. Strategi ini juga dianggap lebih efisien dibandingkan harus merekrut talenta dari kompetitor yang membutuhkan biaya lebih besar dan waktu adaptasi budaya yang lebih lama.
Langkah serupa juga diambil oleh Dropbox yang memperluas program magang dan rekrutmen lulusan baru sebesar 25 persen. Chief People Officer Dropbox, Melanie Rosenwasser, menilai generasi muda memiliki kefasihan teknologi yang sangat tinggi dalam mengoperasikan AI dibandingkan generasi sebelumnya.
“Ibaratnya mereka sudah bersepeda di Tour de France, sementara sisanya masih menggunakan roda bantu,” ujar Rosenwasser dalam keterangannya.
Penyelarasan Tenaga Kerja
Kebijakan rekrutmen masif ini menjadi sorotan setelah IBM sempat mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 2.700 karyawan pada kuartal IV-2025. Juru bicara IBM menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penyelarasan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar yang kini didominasi oleh solusi berbasis AI.
Informasi mengenai strategi ketenagakerjaan ini merujuk pada pernyataan resmi manajemen IBM dan Dropbox dalam konferensi industri yang berlangsung di New York.
