Berita

International IQ Test Ungkap Peringkat Kecerdasan Global 2026: China Teratas, Indonesia Peringkat ke-100

Laporan International IQ Test (IIT) 2026 menempatkan China di puncak daftar negara dengan rata-rata kecerdasan intelektual (IQ) tertinggi di dunia, sementara Indonesia berada di peringkat ke-100. Namun, pemeringkatan ini kembali memicu perdebatan di kalangan akademisi mengenai validitas metode pengukuran IQ secara global.

Kontroversi Pengukuran IQ Global

Upaya mengukur dan membandingkan rata-rata IQ antarnegara hingga kini masih menuai kontroversi. Banyak ahli menilai belum ada metode yang benar-benar netral dan akurat untuk memotret kecerdasan nasional secara adil. Tes IQ yang selama ini dijadikan rujukan global kerap dikritik karena dianggap membawa bias budaya, khususnya bias yang berakar pada sistem pendidikan dan pola pikir negara-negara Barat.

Sejumlah pakar menegaskan bahwa instrumen pengukuran IQ modern tidak selalu relevan ketika diterapkan di kawasan dengan latar sosial, ekonomi, dan pendidikan yang berbeda. Konsep, bahasa, hingga cara berpikir yang digunakan dalam tes sering kali lebih akrab bagi masyarakat di negara maju, sehingga berpotensi merugikan wilayah lain seperti sebagian besar Afrika dan Asia. Kondisi ini membuat hasil perbandingan IQ antarnegara perlu dibaca secara hati-hati dan kontekstual.

China Puncaki Daftar, Indonesia Peringkat ke-100

Meski menuai kritik, data global tetap disusun dan digunakan sebagai referensi. International IQ Test (IIT) menjadi salah satu sumber acuan, yang pada tahun 2024 menghimpun hasil tes dari lebih dari 1,35 juta peserta di berbagai belahan dunia yang mengikuti tes IQ yang sama secara daring. Data tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan pemeringkatan rata-rata IQ nasional tahun 2026.

Laporan IIT 2026 menempatkan negara-negara Asia Timur di posisi teratas peringkat rata-rata IQ global. China berada di urutan pertama dengan skor 107,19, disusul Taiwan (107,10), Hong Kong (107,06), dan Makau (106,73). Korea Selatan dan Jepang juga masuk enam besar dengan skor di atas 106.

Berikut adalah daftar peringkat IQ tertinggi berdasarkan negara dengan skornya:

  • China – 107,19
  • Taiwan – 107,10
  • Hong Kong – 107,06
  • Makau – 106,73
  • Korea Selatan – 106,43
  • Jepang – 106,40
  • Iran – 106,30
  • Singapura – 105,14
  • Rusia – 103,16
  • Mongolia – 102,86

Dominasi kawasan ini kembali menguatkan temuan sebelumnya bahwa sistem pendidikan yang ketat, budaya belajar tinggi, serta penekanan pada matematika dan sains berperan besar dalam capaian kognitif populasi. IIT menyebutkan, seluruh peserta diuji dengan instrumen yang sama secara daring untuk menjaga konsistensi perbandingan lintas negara.

“Pemeringkatan ini menunjukkan kecenderungan regional, bukan ukuran mutlak kecerdasan individu maupun bangsa,” demikian penjelasan IIT dalam keterangannya, seraya menekankan bahwa hasil tes tetap dipengaruhi latar pendidikan dan sosial. Di luar Asia, Rusia (103,16), Australia (102,57), Spanyol (102,30), Kanada (101,65), dan Prancis (101,42) masuk dalam kelompok 20 besar dunia.

Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-100 dunia dengan rata-rata IQ 93,18. Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Thailand tercatat di peringkat ke-18 dunia dengan skor 101,52, diikuti Malaysia di peringkat ke-25 (100,48), serta Vietnam yang menempati peringkat ke-27 dunia dengan rata-rata IQ 100,12. Sementara itu, Filipina berada di peringkat ke-76 dengan skor 96,66, masih berada di atas Indonesia.

IIT menekankan bahwa perbedaan peringkat tersebut tidak dapat dilepaskan dari faktor struktural, terutama kualitas pendidikan, pemerataan akses belajar, serta kondisi sosial-ekonomi masing-masing negara. “IQ nasional tidak boleh dibaca secara tunggal tanpa mempertimbangkan konteks pembangunan manusia dan kualitas sistem pendidikan,” tulis IIT, seraya mengingatkan bahwa skor numerik bukan cerminan utuh potensi sumber daya manusia suatu negara. Karena itu, pemeringkatan IQ nasional lebih tepat dibaca sebagai gambaran statistik global, bukan sebagai label mutlak atas kapasitas intelektual suatu bangsa.

Sejarah dan Metodologi Pengumpulan Data IQ Nasional

Pembahasan soal IQ rata-rata suatu negara tidak bisa dilepaskan dari nama psikolog Richard Lynn (1930–2023). Selama puluhan tahun, ia meneliti perbandingan kecerdasan rata-rata antarnegara. Riset tersebut kemudian dikembangkan bersama Tatu Vanhanen dan dilanjutkan oleh David Becker dalam buku The Intelligence of Nations yang terbit pada 2019.

Dalam kajian itu, Becker membagi data ke dalam dua kategori. Nilai T (Tested) berasal dari hasil tes IQ langsung di suatu negara. Sementara nilai E (Estimated) merupakan perkiraan yang dihitung dari negara-negara terdekat jika data uji langsung tidak tersedia. Metode ini digunakan untuk menutup keterbatasan data di sejumlah wilayah.

Kritik dan Alternatif Pengukuran Kecerdasan

Meski berpengaruh, pendekatan Becker menuai banyak kritik. Ia kerap mengaitkan tingkat kecerdasan dengan faktor ras dan jenis kelamin, pandangan yang dianggap problematis oleh banyak ilmuwan. Sejumlah peneliti menilai metodologi tersebut kurang objektif karena tidak cukup mempertimbangkan peran lingkungan, kualitas pendidikan, serta kondisi sosial dan ekonomi. Kritik ini membuat hasil kajian IQ nasional tidak diterima secara bulat di dunia akademik.

Namun demikian, karya Becker tetap diakui telah membuka perdebatan luas tentang bagaimana kecerdasan seharusnya diukur pada level nasional. Di luar tes IQ, ada pendekatan lain yang sering digunakan untuk menilai kualitas kecerdasan dan pendidikan suatu negara. Salah satunya adalah Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD. Survei ini dilakukan setiap tiga tahun terhadap siswa berusia 15 tahun dan menilai kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan di situasi baru, bukan sekadar menghafal pelajaran. Rilis terakhir PISA dilakukan pada 2022.

Pendekatan yang lebih luas diperkenalkan melalui Intelligence Capital Index (ICI) yang dikembangkan oleh ekonom Kai L. Chan. Indeks ini memandang kecerdasan sebagai modal pembangunan jangka panjang, dengan memasukkan unsur pendidikan, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia. Dengan berbagai metode tersebut, peringkat IQ nasional pada akhirnya bukan hanya soal angka, tetapi bagian dari perdebatan ilmiah yang terus berkembang.

Informasi lengkap mengenai pemeringkatan ini disampaikan melalui laporan International IQ Test (IIT) 2026 yang dirilis berdasarkan data tes daring tahun 2024.