Kasus Gagal Bayar Emas Digital di China Ungkap Risiko Investasi, Pakar Jelaskan Cara Aman Berinvestasi Emas
Kasus gagal bayar yang menimpa platform perdagangan emas digital di China menjadi peringatan serius bagi para investor di Indonesia. Perencana keuangan Andi Nugroho menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih instrumen investasi emas, terutama di tengah tren kenaikan harga komoditas ini, mengingat setiap alat investasi memiliki risiko inheren.
Skandal Gagal Bayar Emas Digital Guncang China
Skandal ini mencuat di Shenzhen, China Selatan, di mana sebuah perusahaan penyedia platform perdagangan emas digital diduga mengalami gagal bayar. Sejumlah nasabah melaporkan kesulitan menarik dana mereka sejak 20 Januari 2026. Beberapa nasabah lain bahkan mengklaim bahwa platform tersebut telah membatasi penarikan harian menjadi 500 yuan dan 1 gram emas mulai 26 Januari 2026.
Diperkirakan lebih dari 150.000 nasabah terdampak oleh insiden ini. Total nominal uang yang tidak dapat ditarik oleh nasabah mencapai sekitar 10 miliar yuan, atau setara dengan Rp 24,1 triliun. Peristiwa ini memicu kekhawatiran global terhadap keamanan investasi di platform emas digital.
Waspada Risiko Investasi Emas Digital Menurut Pakar
Andi Nugroho menjelaskan bahwa risiko utama investasi emas digital terletak pada ketiadaan kepemilikan fisik barang oleh investor. “Emas digital karena fisik barangnya belum berada di tangan kita, memiliki risiko hilangnya emas kita. Misalnya, akibat penyedia layanan emas digital yang tiba-tiba kabur menutup aplikasinya dan tidak bisa terlacak lagi,” kata Andi kepada Kompas.com pada Rabu (4/2/2026). Ia menambahkan, jika skenario terburuk ini terjadi, investor berisiko kehilangan seluruh uang yang telah disetorkan untuk pembelian atau cicilan emas. Oleh karena itu, Andi mengimbau masyarakat untuk lebih teliti dalam memilih platform, memastikan platform tersebut telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Sepanjang perusahaan tersebut sudah memenuhi semua persyaratan untuk izin beroperasi dari pemerintah, dapat dikatakan bahwa berinvestasi di platform yang didirikannya aman,” tegasnya.
Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELS), Bhima Yudhistira, menyoroti risiko likuiditas pada investasi emas digital. “Platform emas digital masih punya kelemahan dari segi likuiditas, yaitu ketika terjadi profit taking massal,” ujar Bhima saat dihubungi Kompas.com. Ia menjelaskan bahwa risiko ini akan sangat terasa apabila banyak nasabah secara bersamaan berbondong-bondong mencairkan saldo emas digital mereka. “Kalau ramai-ramai orang mau cairkan emasnya pasti ada masalah gagal bayar,” tambahnya. Kondisi ini akan semakin genting jika terjadi krisis ekonomi, yang dikhawatirkan memicu penarikan emas digital secara masif dan berujung pada peningkatan tajam kasus gagal bayar.
Alternatif Investasi Emas yang Lebih Aman
Berkaca dari skandal di China, Bhima Yudhistira menyarankan investor untuk mempertimbangkan kembali investasi emas fisik. Meskipun emas fisik memiliki kekurangan seperti risiko kehilangan karena ukurannya yang kecil, Bhima mengimbau penggunaan jasa penyimpanan safety deposit box. “Memang ada biaya penyimpanan safety deposit box yang harus disiapkan masyarakat, tapi fisiknya kan jelas bisa diawasi,” tuturnya. Ia merekomendasikan pembelian emas batangan di bawah 150 gram untuk disimpan di safety deposit box, sebagai alternatif dari emas digital. Namun, Bhima juga menyoroti kesulitan memperoleh emas fisik Antam saat ini, yang menimbulkan pertanyaan kritis: “Kalau emas batangan sulit didapat, lalu emas apa yang disimpan di platform digital?”
Perencana keuangan Andi Nugroho juga membagikan tips investasi emas yang aman dan menguntungkan:
- Membeli emas fisik yang bersertifikat.
- Berinvestasi dalam bentuk batangan, bukan perhiasan.
- Membeli emas secara bertahap dan berkala.
- Untuk keuntungan maksimal, investasikan emas untuk jangka menengah hingga panjang, minimal tiga tahun sebelum dijual kembali.
- Jika berinvestasi jangka pendek, pastikan harga buyback lebih tinggi dari harga beli.
- Menjual emas di gerai resmi seperti gerai Antam atau toko emas yang bonafide.
Informasi mengenai risiko investasi emas digital dan tips berinvestasi emas yang aman ini disampaikan oleh perencana keuangan Andi Nugroho dan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELS) Bhima Yudhistira, menyusul kasus gagal bayar di China.