Khoirul Anam, Satpam Penulis dari Tanjung Priok, Ungkap Perjuangan di Balik Rekor MURI dan Cita-cita Dosen
Seorang anggota satpam bernama Khoirul Anam berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Pria berusia 28 tahun yang bertugas di perbankan kantor cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara, ini diakui sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak. Penghargaan MURI tersebut diserahkan pada Jumat, 30 Januari 2026, setelah Khoirul berhasil mempublikasikan 13 karya ilmiah di jurnal nasional hingga internasional.
Perjalanan Menulis dari Buku Mutasi hingga Jurnal Ilmiah
Rutinitas menulis Khoirul Anam bermula dari upayanya mengisi waktu luang di sela-sela pekerjaannya sebagai satpam. Ia menceritakan bahwa awalnya ia memulai dengan menulis tentang mutasi satpam. “Awal mula saat saya menekuni menulis itu berawal dari menulis buku mutasi satpam,” ucap Khoirul pada Selasa, 3 Februari 2026. Dari sana, pria asal Kabupaten Tanggamus, Lampung, ini memiliki keinginan untuk mengembangkan karya tulisnya.
Khoirul telah menghasilkan delapan buku yang memiliki International Standard Book Number (ISBN) dan terdaftar di Perpustakaan Nasional. Tidak hanya itu, ia juga sedang menyelesaikan tiga buku lain melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan di bawah skema Dana Indonesiana. “Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap,” tuturnya.
Tantangan di Balik Produktivitas: Waktu dan Biaya Publikasi
Perjalanan Khoirul dalam mempublikasikan karyanya tidak selalu mulus, ia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kesulitan utama adalah mengatur waktu antara pekerjaan dan studi. “Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian,” beber Khoirul yang bekerja di Bank BRI.
Selain itu, keterbatasan biaya publikasi jurnal juga menjadi kendala. Jurnal-jurnal populer dan bereputasi tinggi, seperti yang terakreditasi Sinta atau internasional seperti Scopus, memerlukan biaya yang tidak sedikit. “Kalau dari segi pendanaan untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” lanjutnya.
Cita-cita Mulia: Menjadi Pengajar dan Mencerdaskan Bangsa
Sederet tantangan tersebut tidak menyurutkan tekad Khoirul. Ia melihat aktivitas menulis sebagai wadah untuk menyalurkan kontribusinya di dunia pendidikan. Di balik seragam satpamnya, Khoirul memiliki cita-cita mulia untuk menjadi pengajar demi mencerdaskan bangsa. “Motivasi saya sebenarnya ingin mencerdaskan bangsa. Cita-cita saya menjadi pengajar, guru atau dosen,” ungkapnya.
Tekad inilah yang mendorong Khoirul untuk terus menulis buku dan jurnal yang bermanfaat bagi dunia pendidikan. “Untuk saat ini saya bertahan sebagai satpam sambil berusaha mencapai titik tersebut,” imbuhnya.
Lika-liku Hidup dan Pendidikan Tinggi Sang Inspirator
Sebelum namanya tercatat sebagai pemegang rekor MURI, Khoirul Anam telah melewati berbagai lika-liku dalam hidupnya. Ia merantau dari daerah asalnya ke Jakarta hanya dengan modal Rp 1 juta. Khoirul juga sempat mengalami sakit berat hingga koma. “Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” tegasnya.
Kini, Khoirul telah mengantongi dua gelar sarjana. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan sejak 2019. Menariknya, ia juga meraih gelar S1 Pendidikan Agama Islam dari STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah. Tidak berhenti di situ, Khoirul juga telah menyandang gelar magister setelah menuntaskan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Informasi lengkap mengenai perjalanan dan pencapaian Khoirul Anam ini disampaikan melalui berbagai wawancara dan rilis media yang dikutip pada Rabu, 4 Februari 2026, dan Kamis, 5 Februari 2026.