Berita

Kisah Inspiratif Empat Remaja Penyintas Kanker di Solo: Perjuangan, Harapan, dan Makna Kesembuhan

Advertisement

Empat remaja penyintas kanker yang tergabung dalam komunitas Childhood Cancer Care (3C) Solo berbagi kisah perjuangan mereka dalam menghadapi masa-masa sulit hingga akhirnya dinyatakan sembuh. Raka, Cantika, Umar, dan Trias hadir dalam sebuah diskusi di Solo pada Jumat (30/1/2026) didampingi oleh pendiri komunitas 3C, dr. Enny Listiawati, MPH, serta orang tua pasien untuk memberikan edukasi dan semangat bagi sesama pejuang kanker.

Gejala Awal dan Tantangan Diagnosis Kanker pada Anak

Perjalanan para penyintas ini dimulai dengan gejala yang sering kali menyerupai penyakit umum lainnya. Raka, yang kini menjabat sebagai ketua 3C Solo, didiagnosis menderita leukemia pada usia 15 tahun setelah mengalami mimisan dan demam yang awalnya diduga sebagai demam berdarah atau tipes. Setelah melalui pemeriksaan sumsum tulang di RSUD Dr. Moewardi Solo, ia harus menjalani kemoterapi selama 110 minggu.

Kisah serupa dialami oleh Trias yang mengalami mimisan selama 12 jam saat berusia 8 tahun, serta Cantika yang didiagnosis leukemia tepat pada hari ulang tahunnya yang kelima. Sementara itu, Umar berjuang melawan kanker tulang yang awalnya hanya tampak sebagai benjolan di lengan. Meski sempat mengalami fase syok, para remaja ini berhasil melewati rangkaian pengobatan panjang dan kini aktif menyebarkan energi positif.

Penjelasan Medis Terkait Leukemia dan Kondisi Hemoglobin

dr. Enny Listiawati menjelaskan bahwa pada kasus leukemia atau kanker darah, mekanisme penyakitnya berbeda dengan tumor yang biasanya ditandai dengan benjolan. Leukemia menyerang sel darah putih yang kemudian tumbuh berlebihan di dalam pembuluh darah. Kondisi ini menekan produksi sel darah lainnya, termasuk sel darah merah (hemoglobin) dan keping darah (trombosit).

“Kalau sel darah putih jumlahnya sangat banyak, darah menjadi lebih kental. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menghambat sirkulasi darah,” ujar dr. Enny. Ia menambahkan bahwa rendahnya kadar hemoglobin (HB) hingga angka 4, seperti yang dialami Cantika, merupakan kondisi anemia berat yang memerlukan penanganan medis segera agar tidak mengancam nyawa.

Peran Dukungan Keluarga dan Tenaga Medis

Ary Nindyastuti, ibunda Cantika, mengungkapkan bahwa dukungan dari tim medis dan keyakinan spiritual menjadi faktor kunci dalam mendampingi putrinya. Ia mengenang pesan dari almarhum dr. Endang Tatar, Spesialis Anak, yang memotivasinya untuk tetap bersyukur dan memanfaatkan fasilitas kesehatan seperti BPJS untuk pengobatan yang berkelanjutan.

Advertisement

Meskipun sempat menghadapi masa kritis saat Cantika mengalami pembengkakan hati akibat efek samping obat, Ary tetap konsisten mengikuti protokol pengobatan. “Doa ibu itu yang paling utama dan paling powerful. Terus berdoa dan percaya pada pengobatan dokter,” pesan Ary kepada para orang tua yang masih mendampingi anak-anak mereka menjalani kemoterapi.

Filosofi ‘Kanker Marai Pinter’ dan Pesan Harapan

Dalam komunitas 3C Solo, muncul sebuah tagline unik yakni “Kanker marai pinter” yang dicetuskan oleh Umar. Filosofi ini bermakna bahwa melalui cobaan penyakit, seseorang diajarkan untuk menjadi lebih bijak dan kuat dalam menjalani kehidupan. Bagi para penyintas ini, kanker bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses yang membentuk karakter mereka menjadi lebih tangguh.

Cantika menekankan pentingnya kepercayaan diri bagi para pejuang kanker. “Jangan menganggap sakit itu musibah. Anggap diri kamu istimewa, berharga, unik, dan tetap percaya diri,” tuturnya. Senada dengan itu, Raka mengajak para pejuang kanker untuk tidak menyerah karena dukungan dari lingkungan sekitar akan selalu ada untuk menguatkan mereka.

Informasi lengkap mengenai perjuangan para penyintas dan aktivitas komunitas ini disampaikan melalui diskusi publik bersama Childhood Cancer Care (3C) Solo yang berlangsung pada akhir Januari 2026.

Advertisement