Teknologi

Kisah Steven Yang, Eks Insinyur Google yang Bangun Imperium Anker Berbekal Keluhan Konsumen di Internet

Advertisement

Steven Yang, seorang mantan insinyur perangkat lunak senior di Google, mendirikan Anker Innovations pada tahun 2011 di Shenzhen, China. Berawal dari produksi baterai laptop, perusahaan ini kini bertransformasi menjadi raksasa aksesori gadget global dengan jangkauan lebih dari 100 negara dan melayani sekitar 100 juta pelanggan.

Latar Belakang dan Visi Pendirian Anker

Keputusan Steven Yang untuk meninggalkan karier di Google didasari oleh pengamatannya terhadap ulasan dan keluhan konsumen mengenai produk elektronik di internet. Ia menyadari adanya kebutuhan pasar akan solusi pengisi daya yang andal dan efisien, terutama setelah kesulitan mencari baterai laptop berkualitas untuk istrinya.

Dengan modal awal sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp16,2 miliar, Yang mendirikan Anker dengan fokus awal pada baterai laptop sebelum akhirnya merambah ke pengisi daya portabel dan kabel daya. Ia memindahkan kantor pusat perusahaan dari Shenzhen ke Changsha, Provinsi Hunan, untuk mendukung operasional bisnisnya.

Strategi Ekspansi dan Dominasi di Amazon

Pada tahun 2012, Anker memperkuat jajaran manajemennya dengan merekrut Zhao Dongping, mantan Kepala Penjualan Google di China. Di bawah kepemimpinan ini, Anker mengalihkan fokus utama ke pengisi daya ponsel pintar dan aksesori lainnya dengan memanfaatkan platform Amazon sebagai saluran penjualan utama.

Strategi Anker menitikberatkan pada ulasan positif, peringkat pencarian yang kuat, dan harga yang kompetitif. Hasilnya, pada tahun 2014, Anker berhasil menempati peringkat pertama dalam kategori baterai portabel di wilayah Amerika Utara, Eropa, hingga Jepang. Perusahaan juga mulai merambah pasar luring melalui kemitraan dengan ritel besar seperti Walmart dan Best Buy.

Inovasi Teknologi dan Respons Cepat Terhadap Pasar

Anker dikenal sebagai pionir dalam berbagai inovasi aksesori gadget. Pada tahun 2015, perusahaan merilis PowerPort 5, sebuah hub USB dengan lima port yang memungkinkan pengisian daya beberapa perangkat sekaligus. Selain itu, mereka mengembangkan teknologi PowerIQ yang secara otomatis mengenali jenis perangkat untuk mengoptimalkan proses pengisian daya.

Advertisement

Perusahaan ini juga sigap merespons perubahan tren industri, seperti menyediakan dongle dan kabel adaptor ketika produsen ponsel mulai menghilangkan lubang audio 3,5 mm. Hingga saat ini, Anker tetap konsisten meninjau ulasan pengguna untuk menemukan celah pasar dan melakukan perbaikan produk secara berkelanjutan.

Capaian Finansial dan Diversifikasi Merek

Berdasarkan data Statista dan Upsequip, Anker mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dengan pendapatan mencapai 2,47 miliar dolar AS atau setara Rp40,1 triliun pada tahun 2023. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Saat ini, Anker Innovations menaungi beberapa sub-merek yang menyasar segmen berbeda, antara lain:

  • Soundcore: Fokus pada produk audio seperti headphone dan speaker.
  • Eufy: Menyediakan perangkat rumah pintar (smart home) seperti CCTV dan vakum robotik.
  • Nebula: Memproduksi proyektor home theater portabel.
  • Roav: Mengembangkan perangkat penunjang kendaraan.

Perusahaan kini didukung oleh lebih dari 4.000 karyawan, di mana 47 persen di antaranya merupakan staf divisi penelitian dan pengembangan (R&D). Informasi mengenai perjalanan bisnis dan profil perusahaan ini dihimpun berdasarkan data resmi dari situs Anker dan laporan industri terkait.

Advertisement