Finansial

KKP Targetkan Swasembada Garam 2027: Perluas Lahan di NTT dan Bangun Tiga Pabrik Baru

Advertisement

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan optimisme untuk mencapai target swasembada garam nasional pada tahun 2027. Langkah ini ditempuh melalui kolaborasi strategis antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan sektor swasta guna menekan angka impor garam industri.

Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yorhanita, menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah mencapai swasembada garam konsumsi sejak tahun 2012. Namun, tingginya permintaan sektor industri membuat pemerintah masih harus membuka keran impor untuk memenuhi standar kualitas tertentu.

Tantangan Pemenuhan Garam Industri

Berdasarkan catatan KKP, kebutuhan garam nasional pada periode 2026 hingga 2027 diprediksi mencapai 4,9 hingga 5,2 juta ton per tahun. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen dari total kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor, terutama jenis Chlor Alkali Plant (CAP).

Frista menyebutkan bahwa produksi dalam negeri belum optimal dalam memenuhi spesifikasi industri, khususnya terkait kadar natrium klorida (NaCl) yang tinggi. “Kami harus optimis untuk mencapai swasembada pada 2027 melalui berbagai langkah strategis,” ujarnya dalam agenda Bincang Bahari di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Tiga Strategi Utama Pemerintah

Pemerintah menerapkan tiga strategi utama untuk mengejar target tersebut, yakni ekstensifikasi lahan, intensifikasi produksi, dan pembangunan infrastruktur pengolahan. Dalam hal ekstensifikasi, pemerintah telah menetapkan sentra industri garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), seluas 13.697 hektar.

Lahan tersebut terbagi dalam 10 zona, di mana KKP melalui dana APBN akan mengembangkan zona 1 dan zona 2 dengan total luas sekitar 1.924 hektar. Sementara itu, sisa lahan seluas 11.773 hektar akan ditawarkan kepada investor swasta dengan estimasi total produksi mencapai 400.000 ton per tahun.

Advertisement

Untuk strategi intensifikasi, KKP mendorong penggunaan teknologi yang mampu mempercepat proses evaporasi atau penguapan air laut. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan tambak yang sudah beroperasi saat ini tanpa harus menambah luas area secara masif.

Pembangunan Pabrik dan Kolaborasi Strategis

Di sisi infrastruktur, PT Garam di bawah naungan Danantara tengah membangun sejumlah pabrik berkapasitas besar. Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, mengungkapkan bahwa tiga proyek utama telah memulai tahapan pembangunan sejak tahun 2025.

Nama ProyekKapasitasNilai Investasi
Pabrik Gresik Segoromadu 279.200 MTPYRp 112 Miliar
MVR Machine Sampang200.000 MTPYRp 2,1 Triliun
MVR Machine Manyar100.000 MTPYRp 1,2 Triliun

Khusus untuk pabrik di Manyar, Gresik, PT Garam menjalin kolaborasi dengan PT Unilever sebagai mitra offtaker yang akan menyerap hasil produksi secara langsung. Selain itu, terdapat tujuh proyek produksi garam lainnya yang sedang dijajaki bersama mitra strategis, termasuk Pertamina.

Informasi lengkap mengenai target swasembada ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam diskusi publik yang digelar pada 12 Februari 2026.

Advertisement