Mengapa Indonesia Absen di Olimpiade Musim Dingin 2026? Simak Fakta dan Langkah NOC Indonesia
Perhelatan Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026 resmi dimulai pada Jumat (6/2/2026). Meski ajang olahraga global ini terus berkembang dengan partisipasi negara yang semakin luas, Indonesia tercatat belum pernah mengirimkan perwakilannya sejak kompetisi ini pertama kali digelar pada tahun 1924.
Kendala Geografis dan Ketiadaan Ekosistem Olahraga
Faktor utama absennya Indonesia dalam ajang ini adalah kondisi geografis dan iklim tropis. Tanpa musim salju alami, Indonesia tidak memiliki basis pengembangan olahraga seperti ski, snowboarding, atau seluncur es secara organik di tengah masyarakat.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada minimnya infrastruktur latihan dan ketiadaan kompetisi domestik. Atlet Indonesia yang ingin menekuni cabang olahraga musim dingin harus berlatih di luar negeri dengan biaya tinggi guna memenuhi standar kualifikasi internasional yang ketat.
Perbandingan Partisipasi Negara Asia Tenggara
Meskipun berada di kawasan tropis yang sama, beberapa negara tetangga di Asia Tenggara telah berhasil mengirimkan atlet mereka ke panggung Olimpiade Musim Dingin melalui pembinaan atlet di luar negeri. Berikut adalah daftar negara Asia Tenggara yang pernah berpartisipasi:
| Negara | Tahun Partisipasi |
| Filipina | 1972, 1988, 1992, 2014–2026 |
| Thailand | 2002, 2006, 2014–2026 |
| Malaysia | 2018–2026 |
| Singapura | 2018, 2026 |
| Timor Leste | 2014–2022 |
Langkah Strategis NOC Indonesia dan Keanggotaan FIS
Peluang Indonesia untuk tampil di masa depan mulai terbuka setelah Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) resmi diterima sebagai anggota International Ski and Snowboard Federation (FIS) pada 19 Juni 2025. Keputusan ini ditetapkan dalam Kongres FIS yang berlangsung di Swiss.
Presiden FIS, Johan Eliasch, dalam surat resminya menyatakan bahwa keanggotaan ini memungkinkan Indonesia mendaftarkan atlet untuk seluruh kompetisi resmi di bawah naungan FIS. Hal ini merupakan prasyarat penting untuk menembus jalur kualifikasi Olimpiade Musim Dingin.
Komite Eksekutif NOC Indonesia, Harry Warganegara, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi besar. “Menjadi anggota FIS bukan hanya soal status, tetapi bentuk nyata dari komitmen kami membuka jalan menuju Olimpiade Musim Dingin,” ujar Harry.
Pembinaan Atlet Muda dan Kerja Sama Internasional
NOC Indonesia kini mulai memfokuskan perhatian pada atlet muda, salah satunya Zazi Betari Landman. Atlet snowboarding berusia 13 tahun ini telah didaftarkan untuk mengikuti kejuaraan internasional sebagai langkah awal menuju impian Olimpiade.
Selain pembinaan internal, Indonesia menjalin kerja sama dengan anggota IOC asal China, Zhang Hong. Kerja sama ini mencakup akses fasilitas latihan dan beasiswa pelatihan di universitas China untuk berbagai cabang olahraga seperti speed skating, hoki es, hingga kurling.
Informasi lengkap mengenai perkembangan partisipasi Indonesia di ajang olahraga musim dingin ini merujuk pada pernyataan resmi NOC Indonesia dan data dari International Ski and Snowboard Federation.