Islami

Mengenal 10 Jenis Kue Kering Jadul Khas Lebaran yang Sarat Nilai Budaya dan Sejarah Nusantara

Advertisement

Perayaan Idul Fitri di Indonesia selalu identik dengan tradisi silaturahmi dan penyajian hidangan istimewa bagi para tamu. Selain makanan berat seperti ketupat dan opor, keberadaan kue kering klasik menjadi simbol penghormatan tuan rumah sekaligus penanda datangnya hari kemenangan yang penuh berkah bagi umat Islam.

Tradisi Menjamu dan Makna Kue Kering Lebaran

Dalam buku Pangan Nusantara karya Murdijati Gardjito, dijelaskan bahwa tradisi menyajikan kue kering saat Idul Fitri berkembang dari budaya menjamu tamu sebagai bentuk penghormatan tinggi. Kue kering dipilih karena sifatnya yang tahan lama, praktis, dan dapat dipersiapkan jauh sebelum hari raya tiba, sehingga memudahkan tuan rumah dalam menyambut kerabat.

Daftar Kue Kering Klasik yang Sarat Sejarah

Berikut adalah deretan kue kering jadul yang tetap menjadi primadona di meja tamu masyarakat Indonesia dari masa ke masa:

1. Lidah Kucing

Kue berbentuk pipih dan renyah ini mulai populer pada era kolonial. Berdasarkan buku 74 Resep Favorit Kursus NCC, kudapan ini terinspirasi dari biskuit Belanda bernama katetong. Perpaduan mentega, gula halus, dan putih telur menjadi kunci kerenyahannya yang legendaris.

2. Kembang Goyang

Merupakan warisan tradisi Betawi sejak abad ke-19. Sejarawan JJ Rizal dalam bukunya menyebutkan bahwa kue ini sudah dikenal sebagai kudapan perayaan, termasuk Idul Fitri. Nama goyang berasal dari proses pembuatannya yang menggunakan cetakan khusus yang digoyangkan dalam minyak panas.

3. Kue Jahe

Penggunaan jahe mencerminkan adaptasi bahan lokal dalam tradisi perayaan Islam di Nusantara. Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara menjelaskan bahwa aroma rempah ini memberikan sensasi hangat dan kesehatan bagi yang menyantapnya saat momen silaturahmi.

Advertisement

4. Kue Semprit dan Sagon

Kue semprit menjadi ikon toples Lebaran sejak era 1980-an dengan tekstur lembut yang lumer di mulut. Sementara itu, kue sagon yang terbuat dari kelapa parut sangrai merupakan sajian khas Jawa yang sering muncul dalam upacara adat dan hari besar keagamaan karena aromanya yang autentik.

5. Putu Kacang dan Kue Bangkit

Putu kacang merupakan identitas kuliner masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan yang identik dengan tekstur rapuh. Sedangkan kue bangkit menjadi simbol kelembutan dalam tradisi Melayu di Sumatera dan Riau, di mana namanya merujuk pada tekstur adonan yang mengembang saat dipanggang.

Nilai Filosofis di Balik Sajian Lebaran

Kehadiran kue-kue ini bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari memori kolektif keluarga Indonesia. Setiap toples menyimpan cerita tentang kerja sama di dapur dan kehangatan saat tamu berdatangan. Di tengah maraknya hidangan modern, rasa autentik dari resep turun-temurun ini menjadi pengingat bahwa tradisi adalah bagian penting dari identitas bangsa.

Informasi mengenai ragam kue kering tradisional ini dihimpun berdasarkan literatur kuliner Nusantara dan catatan sejarah yang dirilis melalui berbagai sumber referensi otoritatif pada Jumat, 20 Februari 2026.

Advertisement