Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan masih menunggu petunjuk teknis dari Presiden Prabowo Subianto terkait skema pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Hal ini merespons kabar mengenai rencana penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara penuh untuk melunasi kewajiban proyek strategis tersebut.
Menunggu Keputusan Final Presiden
Purbaya menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada arahan yang bersifat tetap atau firm dari Presiden Prabowo. Meski CEO Danantara, Rosan Roeslani, telah memberikan sejumlah usulan solusi, Menkeu menegaskan bahwa pelaksanaan kebijakan tersebut tetap bergantung pada instruksi langsung kepala negara.
“Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Adanya dari Rosan, dari itu kan belum clear. Kalau ada petunjuk Presiden, saya kerjain. Nah, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm,” ujar Purbaya saat ditemui di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Pernyataan Pihak Danantara
Di sisi lain, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memberikan keterangan berbeda. Ia menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto sebenarnya telah memutuskan penggunaan APBN untuk menangani utang Whoosh. Namun, detail mengenai persentase alokasi dana tersebut masih harus menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan.
“Ya kita tunggu saja, kan sudah diputuskan presiden. Ya enggak apa-apa, kita tunggu dari Pak Purbaya,” kata Dony di kompleks Parlemen pada hari yang sama.
Beban Utang dan Kerugian Operasional
Proyek Kereta Cepat Whoosh tercatat meninggalkan beban finansial yang signifikan bagi konsorsium BUMN. Berdasarkan data keuangan terbaru, total utang proyek ini mencapai angka yang cukup besar dengan rincian sebagai berikut:
| Komponen Finansial | Detail Nilai |
| Total Utang Proyek | 7,27 Miliar Dollar AS (Rp 120,38 Triliun) |
| Pinjaman Utama | 75% dari China Development Bank (CDB) |
| Bunga Pinjaman | 2% per tahun dengan tenor 40 tahun |
| Pembengkakan Biaya | 1,2 Miliar Dollar AS (Cost Overrun) |
Selain beban utang, operasional Whoosh juga masih mencatatkan kerugian. PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI), sebagai entitas anak KAI, melaporkan kerugian sebesar Rp 4,195 triliun sepanjang tahun 2024. Jika dikalkulasikan, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung beban kerugian sekitar Rp 11,493 miliar setiap harinya.
Informasi lengkap mengenai perkembangan skema pembiayaan ini didasarkan pada pernyataan resmi jajaran menteri dan pimpinan lembaga terkait dalam rapat kerja di DPR RI pada 18 Februari 2026.
