Fenomena blue hole atau lubang biru di dasar laut tetap menjadi salah satu misteri alam yang menarik perhatian dunia sains. Salah satu yang paling fenomenal adalah Sansha Yongle, atau yang lebih dikenal dengan julukan “Lubang Naga”. Terletak di kawasan Laut China Selatan, lubang ini telah menjadi fokus penelitian intensif selama lebih dari satu dekade karena karakteristik geologis dan kimianya yang unik.
Struktur Geologis dan Pemetaan Tiga Dimensi
Lubang Naga sempat memegang rekor sebagai lubang biru terdalam di dunia dengan kedalaman mencapai 301,19 meter. Meski kini posisi tersebut telah digeser oleh temuan serupa di Meksiko, struktur internal Lubang Naga tetap menjadi subjek studi yang kompleks. Berdasarkan survei terperinci, lubang ini tidak memiliki jalur vertikal yang lurus sempurna ke bawah.
Data penelitian menunjukkan bahwa saluran lubang ini melengkung dan miring. Titik terdalamnya bahkan terletak lebih dari 100 meter secara horizontal dari pintu masuk di permukaan laut. Pada tahun 2017, para ilmuwan berhasil memetakan bagian dalam lubang ini secara tiga dimensi menggunakan teknologi robot bawah air canggih untuk mengatasi kendala navigasi akibat dinding yang tidak rata.
Jejak Garis Pantai Purba dan Fosil Karang
Dinding batu di dalam Lubang Naga berfungsi sebagai arsip alami yang menyimpan catatan sejarah bumi. Peneliti menemukan fitur menyerupai anak tangga pada kedalaman tertentu yang diyakini sebagai garis pantai kuno. Fitur ini terbentuk saat periode dingin ketika permukaan air laut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi saat ini.
Selain struktur fisik, ditemukan pula bukti-bukti kehidupan masa lalu di dinding kapur lubang tersebut, antara lain:
- Fosil cangkang dari berbagai spesies laut purba.
- Fragmen karang kecil yang tertanam kuat di dinding lubang.
- Rongga-rongga samping yang terbentuk akibat fluktuasi permukaan air laut antar zaman.
Kondisi Ekstrem dan Zona Tanpa Oksigen
Aspek yang paling mencolok dari Lubang Naga adalah komposisi kimianya yang ekstrem. Peneliti menemukan bahwa kadar oksigen berkurang secara drastis seiring bertambahnya kedalaman. Pada lapisan 90 hingga 100 meter di bawah permukaan, oksigen hampir menghilang sepenuhnya, menciptakan zona anoksik.
Kondisi ini terjadi karena air di dalam lubang terisolasi dan tidak bercampur dengan sirkulasi air laut di sekitarnya. Di lapisan terdalam, ditemukan kandungan hidrogen sulfida yang tinggi, zat yang mematikan bagi mayoritas makhluk hidup. Lingkungan ekstrem ini hanya dapat dihuni oleh komunitas mikroba khusus yang mampu beradaptasi dengan ketiadaan oksigen.
Informasi mengenai karakteristik geologis dan kimiawi Lubang Naga ini dihimpun berdasarkan laporan penelitian ilmiah dan data survei yang dirilis melalui publikasi Times of India serta lembaga riset terkait.
