Berita

Musim Hujan: Ahli Biologi UNS Ungkap Siput Tanpa Cangkang Tak Berbahaya Langsung, Namun Waspadai Potensi Patogen

Musim penghujan kerap membawa serta kemunculan sejumlah hewan yang tak jarang mengusik kenyamanan penghuni rumah. Salah satu yang sering ditemui adalah siput tanpa cangkang, hewan merayap berwarna gelap yang memicu rasa geli bagi sebagian orang. Kekhawatiran publik sempat mencuat setelah sebuah unggahan di media sosial mengklaim hewan ini berbahaya dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Unggahan akun @lem************ pada Jumat (23/1/2026) menyebut, “Sering dikira hewan lemah, padahal dia bisa menyebabkan kematian. Hati-hati, di musim hujan dia suka muncul di mana-mana.” Pernyataan ini disertai gambar siput tanpa cangkang berwarna hitam di lantai rumah. Namun, benarkah demikian? Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNS, Agung Budiharjo, memberikan penjelasan.

Mengenal Filicaulis bleekeri: Siput Tanpa Cangkang yang Kerap Muncul

Agung Budiharjo menjelaskan bahwa siput tanpa cangkang yang umum ditemukan di Indonesia adalah jenis Filicaulis bleekeri. Dalam bahasa lokal atau daerah, hewan ini sering disebut dengan istilah ‘respo’ atau ‘res-respo’.

Siput tanpa cangkang merupakan anggota Mollusca dari kelompok Gastropoda. Hewan ini memiliki ciri khas tubuh tidak bersegmen dan sepasang ‘antena’ kecil di bagian kepala, serta bergerak dengan merayap menggunakan otot perut.

Mengapa Siput Tanpa Cangkang Masuk ke Rumah Saat Hujan?

Habitat alami siput tanpa cangkang adalah tempat yang lembap, dengan intensitas cahaya rendah, terlindungi, serta tidak tergenang air. Agung mencontohkan, hewan ini sering ditemukan di sela-sela tumpukan batu bata, balik pot tanaman, pojok tembok yang lembap, di bawah tanaman rimbun, atau sekitar kolam.

Pada musim hujan, beberapa area habitatnya sering tergenang air. Kondisi ini mendorong siput tanpa cangkang mencari tempat lembap yang tidak tergenang, salah satunya adalah masuk ke dalam rumah. “Siput tanpa cangkang akan menghindari genangan air karena kulit mereka sebagai alat bantu pernapasan tidak berfungsi dengan baik,” jelas Agung.

Benarkah Berbahaya bagi Manusia? Ini Kata Ahli

Agung Budiharjo menegaskan bahwa siput tanpa cangkang tidak berbahaya bagi manusia secara langsung. “Siput tidak menggigit tubuh manusia dan tidak mengeluarkan racun,” ungkapnya.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah lendir yang menyelimuti tubuh siput. Lendir ini berfungsi menjaga kelembapan tubuh, tetapi seringkali tidak steril. “Lendir tubuh siput tanpa cangkang seringkali tidak steril, berpotensi terdapat parasit, virus, atau bakteri yang mungkin patogen, dan sumber penyakit lainnya,” kata Agung.

Oleh karena itu, jika lendir siput terkontaminasi parasit, virus, atau bakteri patogen, berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia. Agung juga tidak merekomendasikan siput tanpa cangkang untuk dikonsumsi.

Selain itu, siput tanpa cangkang justru merupakan hama bagi tanaman hias dan budidaya. Hewan ini akan memakan batang lunak atau daun, terutama pada tanaman sayur. Ledakan populasi siput sering terjadi pada akhir musim penghujan, didorong oleh kondisi lingkungan lembap, sumber pakan melimpah, dan curah hujan yang berkurang, yang mendukung peningkatan reproduksi.

Cara Efektif Mengusir Siput Tanpa Cangkang dari Lingkungan Rumah

Agung mengungkapkan beberapa cara untuk mengendalikan populasi siput tanpa cangkang, khususnya yang sering muncul di dalam rumah. “Berdasarkan habitat siput tanpa cangkang, terdapat beberapa cara untuk mengendalikan populasinya,” ujarnya.

  • Mengupayakan lingkungan tidak lembap, tetap kering, dan tercukupi cahaya matahari.
  • Menggunakan mollusida, namun cara ini tidak direkomendasikan karena dampak penggunaan bahan kimia yang kurang baik terhadap lingkungan.
  • Menaburkan garam pada lingkungan lembap yang terdapat siput tanpa cangkang. Garam akan membuat kulit atau mantel siput tanpa cangkang kering dan rusak, sehingga siput cenderung menghindari garam.

Perbedaan Siput Tanpa Cangkang dan Lintah: Jangan Keliru!

Agung juga menyoroti bahwa masyarakat sering keliru membedakan siput tanpa cangkang dengan lintah. Keduanya adalah hewan yang berbeda secara taksonomi dan karakteristik.

  • Siput tanpa cangkang: Bukan anggota Mollusca, melainkan kelompok Annelida anggota dari Hirudinea. Tubuhnya tidak bersegmen, memiliki sepasang ‘antena’ kecil di kepala, dan berjalan merayap menggunakan otot perut.
  • Lintah: Memiliki tubuh yang bersegmen dan pada ujungnya terdapat bagian yang disebut disc. “Lintah dianggap berbahaya bagi manusia karena dapat menempel pada kulit manusia serta mengisap darah,” pungkas Agung.

Informasi komprehensif mengenai karakteristik dan penanganan siput tanpa cangkang ini disampaikan oleh Dosen Biologi FMIPA UNS, Agung Budiharjo, dalam keterangannya kepada Kompas.com pada Selasa, 27 Januari 2026.