Finansial

OJK Ungkap Penyebab Biaya Bank Syariah Lebih Mahal dari Konvensional dan Langkah Perbaikannya

Advertisement

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai tingginya biaya produk dan layanan perbankan syariah di Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa masukan tersebut menjadi bahan evaluasi penting untuk memperbaiki ekosistem perbankan syariah nasional agar lebih kompetitif.

Dian mengakui bahwa struktur biaya industri perbankan syariah saat ini masih terbebani oleh tingginya biaya dana (cost of fund). Kondisi ini berdampak langsung pada penetapan harga (pricing) pembiayaan yang ditawarkan kepada masyarakat, sehingga cenderung lebih mahal dibandingkan bank konvensional.

Penyebab Rendahnya Daya Saing Perbankan Syariah

Ketergantungan pada sumber dana mahal disebabkan oleh rendahnya skala usaha dan daya saing industri. Saat ini, mayoritas bank umum syariah masih berada dalam kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) I dengan modal inti di bawah Rp 6 triliun.

Data OJK menunjukkan struktur industri masih didominasi oleh bank dengan total aset di bawah Rp 40 triliun. Kondisi ini membatasi kemampuan bank syariah untuk bersaing dengan bank konvensional yang sudah lebih matang dan berskala besar dalam pasar perbankan nasional.

Strategi Penguatan Modal dan Efisiensi Operasional

OJK menekankan bahwa tantangan utama sektor ini bukan sekadar pertumbuhan, melainkan penguatan permodalan guna mencapai skala ekonomi yang memadai. Dengan modal yang kuat, bank syariah diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional dan kapasitas investasi teknologi.

Advertisement

“Ukuran usaha memiliki pengaruh signifikan terhadap efisiensi, kapasitas investasi teknologi, serta perluasan ekspansi pembiayaan,” ujar Dian pada Kamis (19/2/2026). Langkah ini juga bertujuan memperbaiki struktur penetapan harga agar lebih kompetitif dan meningkatkan kepercayaan pemerintah untuk menempatkan dana.

Diferensiasi Produk dan Model Bisnis Baru

Selain permodalan, OJK mendorong industri untuk menciptakan diferensiasi produk dan model bisnis yang unik sesuai karakteristik syariah. Optimalisasi produk dasar menjadi layanan yang lebih inklusif dan bernilai tambah tinggi dianggap sebagai kunci utama untuk menarik minat masyarakat secara lebih luas.

OJK berkomitmen untuk terus mendampingi industri dalam menciptakan produk baru yang memiliki kekhasan syariah sebagai bentuk diferensiasi. Upaya ini diharapkan menjadi game changer yang mampu memperbaiki posisi perbankan syariah dalam persaingan industri keuangan di masa depan.

Informasi mengenai respons OJK terhadap efisiensi perbankan syariah ini merujuk pada pernyataan resmi lembaga yang dirilis pada Kamis, 19 Februari 2026.

Advertisement