Teknologi & Gaya Hidup

Pakar Siber Luruskan Klaim Viral ChatGPT Mampu Mengamati Pengguna Melalui Kamera Perangkat

Isu mengenai kemampuan ChatGPT untuk mengamati aktivitas pengguna melalui kamera perangkat sedang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok dan Instagram. Klaim ini memicu kegelisahan publik terkait privasi, dengan sejumlah video yang menampilkan ChatGPT seolah-olah dapat menebak detail seperti warna pakaian atau penggunaan jam tangan. Namun, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menegaskan bahwa pemahaman teknis adalah kunci untuk meluruskan persepsi tersebut.

Mitos ChatGPT Mengamati Pengguna

Berbagai unggahan video di media sosial menunjukkan pengguna mengajukan pertanyaan sederhana kepada ChatGPT, lalu menerima jawaban yang dinilai sesuai dengan kondisi nyata mereka. Hal ini menimbulkan kesan bahwa kecerdasan buatan tersebut mampu mengamati pengguna secara langsung. Banyak warganet kemudian menduga sistem AI diam-diam mengakses kamera perangkat atau memantau aktivitas sehari-hari tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Penjelasan Teknis dari Pakar Siber

Pratama Persadha menjelaskan bahwa ChatGPT tidak dirancang untuk menyalakan kamera perangkat, mengamati lingkungan sekitar, atau mengetahui apa yang dikenakan pengguna tanpa informasi yang secara sengaja diberikan. “Akses semacam itu secara teknis tidak mungkin terjadi tanpa izin eksplisit dan tanpa tanda yang jelas di tingkat sistem operasi,” ujar Pratama kepada Kompas.com pada Kamis, 22 Januari 2026.

Menurutnya, perangkat modern seperti Android dan iOS mewajibkan setiap aplikasi meminta persetujuan pengguna untuk mengakses kamera. Selain itu, sistem operasi juga menampilkan indikator visual ketika kamera aktif, sehingga penggunaan kamera secara tersembunyi tidak dapat dilakukan.

Bagaimana ChatGPT Memberikan Jawaban Akurat?

Pratama menjelaskan, jawaban ChatGPT yang tampak akurat sebenarnya dapat dipahami melalui mekanisme kerja model bahasa. Respons tersebut merupakan hasil prediksi berbasis probabilitas yang disusun dari konteks percakapan, pilihan kata pengguna, atau asumsi umum yang lazim terjadi pada manusia.

“Sebagai model bahasa besar, ChatGPT mengolah pola bahasa dari input pengguna dan menghasilkan jawaban yang paling masuk akal secara statistik,” jelas Pratama. Ia menambahkan, “Tidak jarang jawaban ini kebetulan sesuai dengan kenyataan, meskipun tidak didasarkan pada pengamatan visual apa pun.” Mekanisme ini serupa dengan teknik cold reading, yakni menyusun tebakan berdasarkan petunjuk umum tanpa memiliki akses langsung terhadap fakta sebenarnya.

Fitur Analisis Visual yang Disadari Pengguna

Di sisi lain, memang terdapat fitur tertentu yang memungkinkan AI menganalisis gambar atau video. Namun, fitur ini hanya dapat digunakan apabila pengguna secara sadar mengaktifkannya, misalnya dengan menekan ikon kamera, memberikan izin akses, atau mengunggah konten visual secara langsung.

“Dalam kondisi ini, ChatGPT hanya memproses informasi visual yang memang disediakan oleh pengguna, bukan mengambil data dari kamera secara otomatis atau memantau pengguna tanpa sepengetahuan mereka,” tegas Pratama.

Fokus Privasi AI yang Sebenarnya

Video viral yang memperlihatkan ChatGPT seakan mengetahui detail fisik pengguna kemungkinan besar terjadi karena adanya input visual yang telah diaktifkan sebelumnya, atau karena jawaban AI tersebut merupakan prediksi yang kebetulan tepat berdasarkan teks pertanyaan. Pratama menegaskan, tidak terdapat sistem atau mekanisme yang memungkinkan ChatGPT melakukan pemantauan secara real-time terhadap kehidupan pengguna tanpa persetujuan eksplisit dan tanpa indikator kamera yang aktif di perangkat.

Ia menilai, narasi yang berkembang di media sosial kerap berubah menjadi ketakutan berlebihan dan bercampur dengan informasi yang keliru. Padahal, isu privasi dalam penggunaan AI seharusnya lebih difokuskan pada aspek yang nyata, yakni data yang secara sadar dibagikan oleh pengguna.

“Percakapan teks, gambar atau video yang diunggah, serta integrasi dengan data lain seperti kalender atau kontak merupakan sumber informasi yang memang dapat diproses oleh layanan AI sesuai kebijakan privasi masing-masing penyedia layanan,” jelasnya. Dalam menghadapi era kecerdasan buatan, perlindungan privasi dinilai lebih efektif jika dilakukan dengan sikap sadar dan kritis terhadap izin serta data yang diberikan. “Pengguna perlu selektif dalam membagikan informasi pribadi, memahami fitur yang diaktifkan, serta memeriksa pengaturan privasi aplikasi,” kata Pratama.

Dengan pemahaman yang tepat, teknologi AI dapat dimanfaatkan secara aman tanpa terjebak pada ketakutan yang tidak beralasan. Cuplikan terbaru dan informasi detail mengenai keamanan siber dan AI dapat diakses melalui kanal resmi Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC.