Kasus infeksi virus Nipah kembali mencuat setelah laporan kematian seorang perempuan berusia 40 hingga 50 tahun di Bangladesh utara pada akhir Januari 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa pasien mengalami gejala berat seperti demam, sakit kepala, hingga kejang sebelum akhirnya meninggal dunia. Peristiwa ini memicu kewaspadaan global, termasuk di Indonesia yang kini memperketat pengawasan di pintu masuk negara.
Dampak Fatal dan Gejala Infeksi Virus Nipah
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui kelelawar buah sebagai reservoir alami. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi dan kuda, maupun kontak erat antarmanusia. Penyakit ini dinilai sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius pada sistem pernapasan dan saraf.
Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa dampak infeksi pada manusia cenderung lebih mematikan dibandingkan pada hewan. Kematian pada manusia umumnya disebabkan oleh ensefalitis atau peradangan pada jaringan otak.
“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis,” ujar Khrisdiana sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM.
Mekanisme Penularan dan Risiko Konsumsi Nira
Khrisdiana menambahkan bahwa risiko penularan virus Nipah bersifat musiman dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Ketika kelelawar mengalami stres atau kekurangan pakan alami di hutan, mereka cenderung mendekati pemukiman atau perkebunan, yang meningkatkan risiko interaksi dengan manusia atau hewan ternak.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kebiasaan masyarakat mengonsumsi nira segar. Nira yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar yang terinfeksi dapat menjadi media penularan virus. Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar nira diproses melalui pasteurisasi atau dipanaskan sebelum dikonsumsi guna membunuh patogen yang ada.
Langkah Pencegahan dan Regulasi Pemerintah
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah preventif dengan memperkuat pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional serta barang bawaan dari luar negeri. Selain itu, regulasi mengenai penataan letak peternakan juga menjadi perhatian penting untuk memutus rantai penularan.
- Melarang keberadaan peternakan babi di dekat perkebunan nira untuk mencegah transmisi dari kelelawar ke ternak.
- Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan secara rutin.
- Mengganti pakaian segera setelah beraktivitas di luar ruangan atau area berisiko.
- Melakukan pengolahan pangan yang tepat, terutama pada produk hasil sadapan pohon.
Pentingnya Sistem Peringatan Dini
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D., mengingatkan bahwa pola penularan di Asia Selatan menunjukkan transmisi langsung dari kelelawar ke manusia. Hal ini berbeda dengan kasus awal di Malaysia yang melibatkan babi sebagai inang perantara. Heru menekankan pentingnya Indonesia memiliki sistem peringatan dini (early warning system) untuk penyakit zoonosis.
Menurutnya, kewaspadaan harus ditingkatkan tanpa harus melakukan pemusnahan terhadap populasi kelelawar. Fokus utama adalah menghindari kontak langsung dan memastikan setiap temuan gejala klinis yang mencurigakan segera dilaporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti secara cepat.
Informasi lengkap mengenai upaya pencegahan dan perkembangan situasi virus Nipah disampaikan melalui pernyataan resmi para pakar Universitas Gadjah Mada yang dirilis pada Februari 2026.
