Islami

Panduan Lengkap Puasa Hajat dan Nazar: Mengenal Ketentuan Hukum, Niat, serta Tata Cara Sesuai Syariat

Advertisement

Ibadah puasa hajat menjadi salah satu bentuk ikhtiar batin bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT saat memiliki keinginan tertentu. Selain sebagai sarana memohon pertolongan, ibadah ini sering kali berkaitan erat dengan konsep nazar atau janji yang diucapkan secara lisan sebagai wujud kesungguhan seorang hamba.

Kaitan Antara Puasa Hajat dan Nazar

Secara istilah, puasa hajat dilakukan dengan tujuan memohon agar suatu keinginan dikabulkan atau sebagai bentuk syukur setelah hajat terpenuhi. Namun, status hukum ibadah ini dapat berubah dari sunah menjadi wajib apabila dikaitkan dengan nazar.

Dalam buku Rahasia dan Keutamaan Puasa Sunah karya Abdul Wahid, dijelaskan bahwa puasa yang dilakukan karena nazar wajib ditunaikan jika syarat yang dijanjikan telah terpenuhi. Akhyar As-Shiddiq Muhsin dan Dahlan Harnawisastra dalam buku Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah menekankan bahwa nazar harus diucapkan secara lisan agar memiliki konsekuensi hukum syariat, tidak cukup hanya terbersit dalam hati.

Dalil Kewajiban Menunaikan Nazar

Kewajiban menepati janji kepada Allah ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW dari Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Bukhari nomor 6696. Hadis tersebut menyatakan bahwa barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka ia wajib menaatinya.

Al-Qur’an juga memberikan penegasan serupa dalam Surah Al-Insan ayat 7 yang berbunyi:

Yūfūna bin-nadzri wa yakhāfūna yauman kāna syarruhu mustathīrā.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa menunaikan nazar merupakan salah satu ciri orang-orang beriman yang menjaga komitmen spiritualnya dan takut akan azab di hari akhir.

Bacaan Niat dan Tata Cara Pelaksanaan

Niat merupakan rukun utama yang membedakan satu amalan dengan amalan lainnya. Menurut Muh. Hambali dalam buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari, niat puasa ini sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum pelaksanaan puasa.

Advertisement

Berikut adalah bacaan niat puasa nazar:

Nawaitu shauma nadzrin lillāhi ta‘ālā. (Artinya: Saya berniat puasa nazar karena Allah Ta‘ala).

Secara teknis, tata cara pelaksanaan puasa hajat tidak berbeda dengan puasa pada umumnya, yang meliputi beberapa tahapan berikut:

  • Membaca Niat: Dilakukan pada malam hari hingga sebelum terbit fajar.
  • Sahur: Dianjurkan untuk dilakukan karena mengandung keberkahan sesuai hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
  • Menahan Diri: Menghindari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  • Berbuka Puasa: Menyegerakan berbuka saat azan Maghrib berkumandang dengan membaca doa yang telah diajarkan.

Dimensi Spiritual dan Komitmen Pribadi

Sayyid Sabiq dalam karya Fiqh Sunnah mengingatkan bahwa nazar adalah komitmen pribadi yang serius. Meskipun pada asalnya ibadah tersebut tidak wajib, ucapan lisan menjadikannya sebuah kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Puasa hajat bukan sekadar metode untuk mencapai hasil yang diinginkan, melainkan proses penghambaan dan ketundukan total. Para ulama mengimbau umat Muslim untuk merenungkan kesanggupan diri sebelum mengucapkan nazar agar janji tersebut dapat ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.

Informasi lengkap mengenai ketentuan ibadah ini dirangkum berdasarkan literatur fikih dan panduan ibadah praktis yang merujuk pada sumber-sumber syariat Islam otoritatif.

Advertisement