PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memastikan seluruh kegiatan operasional di berbagai pelabuhan tetap berjalan lancar dan terkendali meski menghadapi dinamika logistik yang beragam. Langkah ini diambil melalui koordinasi intensif dengan pemangku kepentingan guna menjaga efisiensi arus barang di tengah variasi karakteristik infrastruktur di setiap wilayah operasional.
Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo, Ali Sodikin, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan langkah penyesuaian untuk memastikan layanan kepelabuhanan tetap aman dan efisien. Ia menekankan bahwa layanan pelabuhan senantiasa memperhatikan faktor keselamatan pelayaran, kondisi alur, serta koordinasi dengan regulator terkait.
Dinamika Operasional di Merauke, Belawan, dan Tanjung Perak
Ali memaparkan kondisi spesifik di beberapa titik krusial. Di Pelabuhan Merauke, aktivitas stripping dan stuffing masih dilakukan di dalam area pelabuhan karena keterbatasan depo eksternal, yang memicu tingginya okupansi lapangan penumpukan pada periode tertentu. Pelindo kini tengah mengkaji opsi optimalisasi pola operasi dan pengembangan fasilitas pendukung di luar terminal.
Sementara itu, di Pelabuhan Belawan, operasional kapal harus menyesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut karena kedalaman alur maksimum berada di kisaran minus 9 meter LWS. Di sisi lain, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tetap beroperasi normal dengan waktu tunggu operasional 15 hingga 30 jam, meski salah satu terminal sedang menjalani perawatan rutin alat bongkar muat.
Penguatan Kapasitas dan Arus Peti Kemas TPS Surabaya
Untuk meningkatkan keandalan layanan, Pelindo menjadwalkan penambahan alat di sejumlah terminal pada tahun 2026. Terminal Petikemas Surabaya (TPS) akan menerima empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG), sedangkan TPK Berlian akan dilengkapi dua unit QCC pada pertengahan tahun ini.
Berdasarkan data kinerja, TPS mencatat pertumbuhan arus peti kemas sebesar 4,03 persen secara bulanan pada Desember 2025, dari 132.000 TEUs menjadi 138.000 TEUs. Secara tahunan, total arus peti kemas sepanjang 2025 mencapai 1,57 juta TEUs. Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menjelaskan bahwa kinerja ini didukung oleh keandalan layanan bongkar muat yang terjaga.
Produktivitas dan Efisiensi Layanan bagi Eksportir
Peningkatan juga terlihat pada jumlah kunjungan kapal ke TPS yang naik 5,43 persen menjadi 1.281 kunjungan sepanjang 2025. Rata-rata kinerja bongkar muat tercatat sebesar 52 box per ship per hour, melampaui standar minimum Kementerian Perhubungan sebesar 48 box per ship per hour.
Layanan ini mendapat apresiasi dari pengguna jasa, termasuk Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur. Wakil Ketua DPD GPEI Jatim, Boy George Rahman, menyoroti efisiensi Truck Round Time (TRT) yang berada di bawah 30 menit.
“Kami sangat mengapresiasi layanan TPS, khususnya receiving peti kemas ekspor yang meningkatkan efisiensi waktu pengiriman,”
ujar Boy.
Informasi mengenai perkembangan operasional dan kinerja layanan ini merujuk pada pernyataan resmi manajemen Pelindo dan subholding terkait yang dirilis pada 19 Februari 2026.
