Generasi Z dan milenial diproyeksikan akan mendominasi 74 persen angkatan kerja global pada tahun 2030. Namun, laporan terbaru Deloitte Global bertajuk 2025 Gen Z and Millennial Survey mengungkapkan bahwa mayoritas dari mereka kini terjebak dalam fenomena overwork dan stres kronis akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Tekanan Finansial dan Krisis Kesehatan Mental
Biaya hidup tetap menjadi kekhawatiran utama bagi kedua generasi selama empat tahun berturut-turut. Berdasarkan data survei terhadap 23.482 responden di 44 negara, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan isu ekonomi sebagai beban pikiran paling berat. Ketidakpastian finansial ini membuat hampir separuh responden merasa tidak aman secara ekonomi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesehatan mental mereka. Tercatat, 40 persen Gen Z dan 34 persen milenial mengaku merasa cemas atau stres hampir sepanjang waktu. Pekerjaan disebut sebagai kontributor signifikan terhadap kondisi mental ini oleh sekitar sepertiga responden dari kedua kelompok usia tersebut.
Dilema Side Hustle: Solusi Ekonomi atau Pemicu Burnout
Untuk menyiasati tekanan finansial, sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memilih untuk memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle. Motivasi utamanya adalah kebutuhan pendapatan tambahan, yang diakui oleh 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial. Meski demikian, ada pula yang menjalaninya untuk mengembangkan keterampilan (30 persen) atau sekadar hobi.
Namun, keberadaan pekerjaan tambahan ini menjadi pedang bermata dua. Alih-alih memberikan ketenangan, side hustle justru memperpanjang jam kerja efektif dan menggerus waktu istirahat. Hal ini memperbesar risiko kelelahan kronis atau burnout, mengingat banyak dari mereka yang sudah bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan bulanan.
Redefinisi Ambisi dan Kesenjangan Manajemen
Menariknya, ambisi generasi muda saat ini tidak lagi berorientasi pada jabatan struktural. Hanya 6 persen Gen Z yang menargetkan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada pengembangan diri secara berkelanjutan. Sebanyak 70 persen Gen Z rutin mengasah keterampilan baru setiap minggu, bahkan di luar jam kerja resmi.
Di sisi lain, terdapat kesenjangan ekspektasi antara pekerja muda dan pihak manajemen. Para pekerja berharap manajer dapat berperan sebagai mentor yang membantu menjaga work-life balance. Namun, realitasnya banyak manajer yang masih terjebak pada pengawasan tugas harian tanpa memberikan dukungan emosional atau bimbingan yang memadai.
Keselarasan Uang, Makna, dan Kesejahteraan
Deloitte menekankan bahwa kebahagiaan di tempat kerja kini bergantung pada tiga pilar utama: uang, makna, dan kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa mereka yang merasa aman secara finansial cenderung lebih bahagia dibandingkan mereka yang hidup dari gaji ke gaji. Selain itu, rasa memiliki tujuan (purpose) sangat krusial, di mana 44 persen Gen Z bersedia meninggalkan pekerjaan jika merasa tugas mereka tidak bermakna.
Informasi lengkap mengenai dinamika tenaga kerja global ini dirilis melalui laporan resmi Deloitte Global dalam survei tahunan edisi 2025.
