Fenomena meningkatnya sensitivitas emosional atau rasa mudah tersinggung sering kali muncul saat seseorang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kondisi ini bukan sekadar sugesti, melainkan memiliki dasar biologis yang berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh serta sistem kerja otak manusia.
Faktor Biologis dan Medis Pemicu Amarah
Selama 12 hingga 14 jam tanpa asupan energi, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang signifikan. Dalam buku Why Zebras Don’t Get Ulcers karya Robert M. Sapolsky, dijelaskan bahwa stabilitas hormon stres sangat dipengaruhi oleh asupan energi harian.
Penurunan Gula Darah dan Lonjakan Hormon Stres
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak. Ketika kadar gula darah menurun atau mengalami hipoglikemia ringan, otak kesulitan mengatur emosi secara optimal. Kondisi ini sering disebut sebagai hypoglycemia-induced irritability, di mana seseorang menjadi lebih reaktif terhadap tekanan.
Selain itu, hormon kortisol atau hormon stres akan meningkat untuk menjaga keseimbangan energi saat tubuh mengalami stres metabolik. Berdasarkan buku The Endocrine System at a Glance, lonjakan kortisol yang berlebihan dapat memicu rasa cemas dan membuat seseorang lebih mudah tersinggung.
Dampak Kurang Tidur dan Dehidrasi
Perubahan pola tidur demi sahur dan ibadah malam juga memengaruhi amigdala, bagian otak yang mengatur respons emosional. Penelitian Harvard Medical School menunjukkan kurang tidur meningkatkan aktivitas amigdala hingga 60 persen. Selain itu, dehidrasi ringan menurut Journal of Nutrition terbukti menurunkan stabilitas emosi dan konsentrasi.
Puasa Sebagai Madrasah Pengendalian Diri dalam Islam
Meski ada faktor biologis, Islam memandang puasa sebagai sarana melatih ketakwaan dan kesabaran. Hal ini tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan tujuan puasa adalah agar umat beriman menjadi bertakwa. Pengendalian amarah menjadi salah satu indikator keberhasilan ibadah tersebut.
“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Langkah Praktis Menjaga Ketenangan Hati
Untuk menjaga kualitas ibadah, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh umat Muslim:
- Mengonsumsi menu sahur seimbang dengan karbohidrat kompleks dan protein.
- Menjaga kualitas tidur dengan menyempatkan istirahat singkat di siang hari.
- Meningkatkan frekuensi zikir sesuai anjuran Surah Ar-Ra’d ayat 28 untuk menenangkan hati.
- Memastikan kecukupan cairan antara waktu berbuka hingga sahur.
Informasi mengenai kaitan antara kondisi fisik dan emosi saat berpuasa ini dirangkum dari berbagai sumber medis serta rujukan keagamaan yang dirilis pada Februari 2026.
