Berita

Peristiwa Pilu Anak SD di NTT: Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Psikolog Soroti Dampaknya

Peristiwa memilukan seorang siswa sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena, menyita perhatian publik. YBS (10) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri pada Kamis, 29 Januari 2026, di Kabupaten Ngada, NTT. Keterbatasan ekonomi keluarga disebut menjadi pemicu utama, di mana sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan YBS untuk membeli perlengkapan sekolah.

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menyoroti kasus ini sebagai alarm keras bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa tindakan bunuh diri pada anak usia SD tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan kulminasi dari tekanan yang menumpuk.

Kronologi dan Latar Belakang Peristiwa

Sebelum meninggal dunia, YBS diketahui tinggal di sebuah gubuk bersama sang nenek yang berusia 80-an tahun. Di lokasi kejadian, ditemukan pula surat yang ditinggalkan YBS untuk sang ibu, mengindikasikan adanya pesan terakhir dari korban.

Psikolog: Alarm Keras bagi Kita Semua

Danti Wulan Manunggal, saat dihubungi Kompas.com pada Rabu, 4 Februari 2026, menyatakan keprihatinannya. “Sangat menyedihkan ketika sebuah benda sederhana seperti pena, yang bagi banyak orang dianggap sepele, menjadi beban eksistensial yang tak tertahankan bagi seorang anak,” kata Danti.

Ia menjelaskan, secara psikologis, bunuh diri pada anak usia 7-12 tahun adalah hasil dari berbagai tekanan yang terakumulasi, bukan hanya karena satu pemicu seperti pena dan buku.

Faktor Pemicu Bunuh Diri pada Anak Usia SD

Perkembangan Kognitif dan Emosional

Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa anak-anak cenderung melihat masalah secara absolut karena perkembangan kognitif dan emosional mereka masih dalam tahap transisi. “Anak-anak cenderung melihat masalah secara absolut. Jika mereka tidak punya pena, mereka merasa tidak bisa sekolah; jika tidak bisa sekolah, mereka merasa tidak punya masa depan atau akan dimarahi. Mereka belum memiliki kemampuan problem-solving yang matang untuk melihat jalan keluar lain,” ungkapnya.

Perasaan Menjadi Beban dan Rasa Bersalah

Anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem seringkali merasa diri mereka adalah “beban” bagi orang tua. Hal ini dapat memunculkan rasa bersalah yang mendalam. “Ketika permintaan sederhana seperti pena tidak terpenuhi karena ibu tidak mampu, anak bisa merasa sangat bersalah karena telah menambah beban pikiran ibunya,” jelas Danti.

Isolasi Sosial dan Harga Diri

Faktor sosial juga berpengaruh, di mana anak dapat merasa terisolasi di lingkungan sekolah karena tidak memiliki perlengkapan belajar. “Tanpa itu, anak merasa berbeda, malu di depan teman sebaya, atau takut dihukum guru. Bagi anak, penerimaan sosial adalah segalanya,” kata Danti.

Kurangnya Kontrol Diri

Anak-anak belum memiliki kontrol diri yang sempurna. Perasaan malu, takut, dan sedih dapat memuncak bersamaan, yang pada akhirnya bisa mendorong mereka mengambil keputusan fatal seperti bunuh diri.

Dampak Tekanan Ekonomi pada Kesehatan Mental Anak

Stres Toksik dan Gangguan Otak

Danti melanjutkan, kondisi ekonomi bukan sekadar masalah ‘uang’, tetapi juga stres toksik yang dapat dialami secara terus-menerus. “Tekanan ekonomi secara terus-menerus dapat memicu hormon kortisol (hormon stres) yang tinggi pada anak. Jika terjadi secara terus-menerus, bagian otak yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan bisa terganggu,” terangnya.

Krisis Identitas dan Harga Diri

Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi lebih mudah cemas, depresi, dan merasa putus asa. Anak-anak membangun harga diri melalui perbandingan dengan teman-temannya. Ketidakmampuan memiliki perlengkapan sekolah dasar membuat mereka merasa “cacat” secara sosial. “Dalam kasus di NTT, pena adalah simbol akses terhadap pendidikan. Kehilangan pena berarti kehilangan identitasnya sebagai ‘siswa’,” jelas Danti.

Anak sebagai “Spons Emosi”

Anak-anak adalah “spons emosi” yang menyerap perasaan orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua terus-menerus menunjukkan kecemasan, kesedihan, atau kemarahan karena tekanan ekonomi, anak akan menyerap emosi tersebut. “Mereka akan merasa bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman dan penuh penderitaan,” kata Danti.

Kerentanan Anak dan Pentingnya Dukungan Kesehatan Mental

Danti mengingatkan bahwa seorang anak tidak memiliki mekanisme pertahanan diri seperti halnya orang dewasa. Oleh karena itu, kondisi ekonomi yang sulit dapat membuat anak sangat rapuh. “Hal ini menjadi pengingat bahwa dukungan kesehatan mental harus menyentuh hingga ke pelosok dan lapisan ekonomi terbawah,” pungkas Danti.

Informasi mengenai kasus ini dan analisis psikologis disampaikan melalui laporan Kompas.com pada Rabu, 4 Februari 2026.

Layanan Konseling

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia berikut ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater