Islami

Perkuat Semangat Orang Basudara, Maluku Targetkan Integrasi Literasi Keagamaan ke Kurikulum Sekolah

Advertisement

Pemerintah Provinsi Maluku bersama Institut Leimena resmi menggelar seminar penguatan karakter bangsa melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKK) di Kantor Gubernur Maluku, Kamis (12/2/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya konkret dalam merawat kerukunan dan memperkuat semangat hidup Orang Basudara di tengah kemajemukan masyarakat.

Sekretaris Daerah Maluku, Sadli Ie, yang membuka acara tersebut menyatakan bahwa tantangan zaman menuntut masyarakat untuk tidak sekadar hidup berdampingan, tetapi juga saling menghargai. Ia menegaskan bahwa program ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan toleransi antarumat beragama.

Transformasi Maluku Menjadi Laboratorium Perdamaian

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, mengungkapkan ambisinya untuk menjadikan Maluku sebagai laboratorium perdamaian dunia. Berdasarkan sejarah konflik sosial berbasis identitas yang pernah terjadi, dunia pendidikan kini didorong untuk lebih berperan aktif dalam menjaga harmonisasi sosial.

“Kami ingin terus membagikan contoh praktik penguatan literasi keagamaan lintas budaya agar dapat diadaptasi di sekolah. Kami juga mendorong upaya integrasi nilai-nilai ini ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” ujar Sarlota dalam keterangannya kepada awak media.

Pengakuan Internasional di KTT ASEAN

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan bahwa program LKK telah meluluskan lebih dari 10.000 pendidik di seluruh Indonesia sejak dimulai pada akhir 2021. Prestasi ini bahkan mendapat pengakuan internasional dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2025 di Malaysia sebagai strategi menuju Komunitas ASEAN 2045 yang inklusif.

Advertisement

“Keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga. Pada November 2025 lalu, delegasi dari Bangsamoro, Filipina, bahkan berkunjung ke Ambon untuk mempelajari implementasi program ini,” tutur Matius. Ia menambahkan, khusus di Ambon, pendekatan dilakukan melalui musik mengingat status kota tersebut sebagai City of Music versi UNESCO.

Menangkal Eksklusivisme Beragama

Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, turut memberikan penekanan bahwa literasi keagamaan lintas budaya bukan bertujuan mencampuradukkan keyakinan. Fokus utamanya adalah memahami nilai universal kemanusiaan seperti cinta kasih dan keadilan guna membangun ruang dialog yang sehat.

“Kita tidak boleh tutup mata atas realitas fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi yang terus tumbuh. Semangat Orang Basudara harus terus dihidupkan dan ditransformasikan menjadi nilai hidup bersama agar tidak dibiarkan tumbuh tanpa arah,” tegas Bodewin.

Informasi mengenai penguatan literasi keagamaan lintas budaya ini disampaikan melalui pernyataan resmi Pemerintah Provinsi Maluku dan Institut Leimena dalam rangkaian seminar yang berlangsung di Ambon pada Februari 2026.

Advertisement