Ribuan Warga AS Soroti Taktik Agresif ICE: Gelombang Protes Meluas, Picu Pencopotan Pejabat FBI
Ribuan demonstran memadati jalanan Minneapolis, Amerika Serikat, pada Jumat (30/1/2026), bersamaan dengan aksi mogok belajar mahasiswa di berbagai wilayah. Aksi ini menuntut penarikan agen imigrasi federal dari Minnesota menyusul penembakan fatal terhadap dua warga negara AS, Alex Pretti (37) dan Renee Good (37), bulan ini.
Protes Meluas di Seluruh AS
Gelombang protes ini dipicu oleh pengerahan sekitar 3.000 petugas federal oleh Presiden Donald Trump ke Minneapolis dalam rangka Operasi Metro Surge, jumlah yang lima kali lipat lebih banyak dari total anggota Kepolisian Minneapolis. Petugas tersebut berpatroli dengan perlengkapan taktis, memicu kemarahan publik terhadap taktik Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE).
Katia Kagan, seorang peserta aksi yang merupakan anak imigran Yahudi Rusia, menyatakan, “Saya turun ke jalan karena ingin memperjuangkan mimpi Amerika yang dicari orang tua saya ketika datang ke sini.” Sementara itu, Kim, seorang pelatih meditasi berusia 65 tahun, menyebut pengerahan aparat federal sebagai “serangan fasis secara terang-terangan dari pemerintah federal terhadap warga negara.”
Aksi protes meluas hingga diperkirakan 250 demonstrasi digelar di 46 negara bagian, termasuk kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, dan Washington. Para demonstran mengusung slogan: “Tidak bekerja. Tidak sekolah. Tidak belanja. Hentikan pendanaan untuk ICE.”
Dampak kebijakan ini juga terasa di Aurora, Colorado, di mana sekolah-sekolah negeri ditutup pada Jumat karena perkiraan banyak guru dan siswa tidak masuk. Aurora sebelumnya disebut Trump sebagai “zona perang” yang dikuasai geng Venezuela. Di Universitas DePaul, Chicago, terlihat poster-poster protes bertuliskan “kampus suaka” dan “fasis tidak diterima di sini.”
Para siswa sekolah menengah di Long Beach, California, melakukan aksi mogok belajar sambil membawa poster anti-ICE, sementara ratusan pelajar di Brooklyn berbaris panjang meneriakkan yel-yel kecaman terhadap ICE.
Dampak ke Tingkat Federal dan Kebijakan Baru
Peristiwa di Minneapolis turut berdampak pada pemerintah federal. Kepala sementara kantor lapangan FBI di Minneapolis, Jarrad Smith, dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke markas besar FBI di Washington. Langkah ini diambil di tengah keterlibatan kantor FBI Minneapolis dalam pengerahan aparat federal serta penyelidikan penembakan Pretti.
Selain itu, mantan pembawa acara CNN, Don Lemon, ditangkap FBI pada Jumat dan didakwa oleh Departemen Kehakiman melanggar hukum federal terkait aksi protes di dalam sebuah gereja di St. Paul, Minnesota, awal bulan ini. Pengacara Lemon menyebut penangkapan kliennya sebagai serangan terhadap kebebasan pers. Lemon menyatakan tidak bersalah dan menegaskan, “Saya tidak akan dibungkam. Saya menantikan hari persidangan saya.”
The New York Times, mengutip memo internal ICE, melaporkan bahwa agen federal minggu ini diberi kewenangan lebih luas untuk melakukan penangkapan tanpa surat perintah. Kebijakan ini memperluas kemampuan agen ICE tingkat bawah untuk melakukan razia dan menangkap imigran yang diduga tidak berdokumen yang mereka temui.
Penolakan terhadap kebijakan imigrasi pemerintahan Trump juga berpotensi memicu penutupan sebagian pemerintahan AS, karena Partai Demokrat di Kongres menentang pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang membawahi ICE.
Tanggapan Pejabat dan Kontroversi
Video-video viral yang memperlihatkan taktik agresif agen federal bersenjata lengkap dan bertopeng di jalanan Minneapolis telah memicu kemarahan publik. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos mencatat, hal ini membuat tingkat dukungan publik terhadap kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump turun ke titik terendah selama masa jabatan keduanya.
Menanggapi meningkatnya penolakan, pejabat imigrasi utama Trump, Tom Homan, dikirim ke Minneapolis. Ia menyatakan bahwa para petugas akan kembali melakukan operasi yang lebih terarah, tidak lagi melakukan razia besar-besaran di jalanan yang selama ini memicu bentrokan dengan para demonstran.
Namun, Gubernur Minnesota dari Partai Demokrat, Tim Walz, meragukan perubahan tersebut. “Satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan warga Minnesota adalah pemerintah federal mengurangi pasukannya dan mengakhiri kampanye brutal ini,” kata Walz melalui platform X.
Presiden Trump sebelumnya mengatakan ingin “sedikit meredakan situasi.” Namun, pada Jumat, ia kembali menuduh para demonstran di Minnesota sebagai pemberontak. Ia bahkan kembali mengangkat kemungkinan penerapan Insurrection Act, yang memungkinkan pengerahan militer, dengan menyatakan, “Mereka adalah pemberontak bayaran, pembuat kekacauan bayaran,” tanpa menyertakan bukti.
Informasi lengkap mengenai gelombang protes dan kebijakan imigrasi ini disampaikan melalui berbagai laporan media dan pernyataan resmi dari pihak terkait yang dirilis hingga Sabtu, 31 Januari 2026.