Finansial

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.828 per Dollar AS Dipicu Data Tenaga Kerja Amerika Serikat Terbaru

Advertisement

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,25 persen atau turun 42 poin ke level Rp 16.828 per dollar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Faktor Penguatan Dollar AS

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dollar AS secara global. Hal ini terjadi setelah rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang mencatatkan hasil lebih kuat dari perkiraan pasar.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang rebound setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman.

Data tersebut mendorong minat investor terhadap dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini juga berdampak pada pergerakan pasar modal domestik.

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan

Sejalan dengan pelemahan nilai tukar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berakhir di zona merah. IHSG ditutup pada level 8.265,352, melemah 25,613 poin atau setara 0,31 persen. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks dibuka pada level 8.317,240.

Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 8.334,022. Namun, tekanan jual yang masif membawa indeks ke level terendah di 8.220,150 sebelum akhirnya mengalami pemulihan tipis menjelang penutupan pasar.

Advertisement

Statistik Perdagangan Bursa

Aktivitas perdagangan di bursa saham pada hari ini mencatatkan volume transaksi mencapai 43,264 miliar saham dengan nilai transaksi total sebesar Rp 23,848 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 3.024.785 kali.

  • Saham melemah: 384 saham
  • Saham menguat: 294 saham
  • Saham stagnan: 144 saham

Hingga penutupan pasar, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di angka Rp 15.026,947 triliun.

Informasi lengkap mengenai pergerakan nilai tukar dan pasar modal ini merujuk pada data Bloomberg serta laporan harian Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada 12 Februari 2026.

Advertisement