Berita

Sesar Semarang Aktif: UGM Ungkap Sejarah Gempa dan Risiko Berlapis di Kota Atas

Perbincangan mengenai keberadaan Sesar Semarang kembali mencuat di kalangan warganet setelah sebuah unggahan di akun Instagram @aslisemar* pada Rabu, 28 Januari 2026, menjadi viral. Unggahan tersebut mengungkap bahwa Kota Semarang dilintasi oleh sesar naik yang membentang cukup panjang, membelah kawasan Kota Bawah hingga Kota Atas, serta mengimbau warga di wilayah peralihan untuk lebih waspada.

Jalur Sesar dan Potensi Risiko di Semarang

Unggahan tersebut memaparkan jalur sesar yang secara umum mengikuti bentang perbukitan Semarang. Sejumlah kawasan disebut perlu mendapat perhatian khusus, di antaranya Gajahmungkur di sekitar Jalan S. Parman hingga kawasan Candi, Ngaliyan terutama di area dengan kondisi tanah yang labil, Candisari termasuk Jatingaleh dan sekitarnya, serta Tembalang yang dikenal sebagai kawasan perbukitan dengan kepadatan hunian cukup tinggi.

Di wilayah-wilayah tersebut, potensi risiko tidak hanya berasal dari kemungkinan guncangan gempa, tetapi juga ancaman longsor. Kondisi ini berkaitan dengan struktur tanah yang telah terganggu oleh keberadaan zona patahan (fault zone), sehingga kestabilan lereng menjadi lebih rentan.

Unggahan tersebut kemudian memicu beragam reaksi dari warganet. Akun @frt*** menyoroti pentingnya menjaga ruang terbuka hijau, menulis, “Semoga lahan-lahan hijau tetap dilestarikan dan dijaga di Semarang supaya efeknya tidak terlalu besar.” Sementara itu, pengguna mikhaela*** menyampaikan harapan agar Kota Semarang senantiasa aman, “Semoga Semarang baik-baik saja, amin.”

Rekam Jejak Aktivitas Sesar Semarang Menurut Pakar UGM

Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein, menjelaskan bahwa Sesar Semarang merupakan salah satu sesar naik (thrust fault) aktif yang membentang di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Indikasi keaktifannya dapat ditelusuri dari catatan sejarah dan bukti geologi.

Dalam arsip pemerintahan kolonial Belanda tercatat adanya gempa bumi pada tahun 1856 dan 1867 yang berasosiasi dengan keberadaan Sesar Semarang,” ujar Salahuddin Husein kepada Kompas.com pada Jumat, 30 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa catatan tersebut menjadi penanda penting bahwa Sesar Semarang pernah melepaskan energi seismik secara signifikan.

Secara karakteristik, Sesar Semarang tergolong sesar naik, di mana satu blok batuan terdorong naik terhadap blok lainnya akibat gaya kompresi. Pola ini berbeda dengan sesar geser mendatar seperti Sesar Cimandiri atau Sesar Opak yang pergerakannya dominan horizontal.

Sebagai sesar aktif, tentu Sesar Semarang memiliki potensi gempa yang tidak bisa diabaikan, meskipun periode ulang gempanya relatif panjang,” kata Salahuddin. Ia menambahkan, tantangan utama sesar-sesar di Jawa, termasuk Sesar Semarang, adalah keberadaannya yang sering kali tersembunyi di bawah permukiman padat, sehingga ancamannya kerap luput dari perhatian publik.

Risiko Berlapis Gempa dan Longsor di Kota Atas Semarang

Wilayah Kota Atas Semarang, seperti Gajahmungkur, Candisari, hingga Tembalang, dikenal memiliki topografi perbukitan dan berada relatif dekat dengan jalur Sesar Semarang. Kondisi ini membuat risiko bencana di kawasan tersebut bersifat berlapis.

Salahuddin menjelaskan, kedekatan wilayah-wilayah tersebut dengan zona sesar menyebabkan dampak guncangan gempa berpotensi terasa lebih kuat, terutama pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa. “Wilayah-wilayah tersebut terletak dekat dengan zona Sesar Semarang, sehingga dampak getaran gempa bumi terhadap konstruksi bangunan tentu akan terasa lebih kuat,” jelasnya.

Ancaman tidak berhenti pada guncangan gempa saja. Getaran seismik juga dapat memicu bencana susulan berupa longsor, terutama di daerah perbukitan dengan lereng yang telah mengalami pelapukan atau perubahan tata guna lahan. “Getaran gempa bumi dapat melemahkan kekuatan batuan di lereng perbukitan, sehingga berpotensi menimbulkan bencana susulan berupa longsor,” lanjut Salahuddin.

Kondisi ini diperparah oleh keberadaan zona patahan (fault zone) yang umumnya memiliki batuan lebih rapuh dan retakan intensif. Di kawasan permukiman padat Kota Atas Semarang, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap kestabilan tanah dan fondasi bangunan.

Terkait mitigasi, Salahuddin menekankan bahwa pengurangan risiko bencana tidak bisa hanya bergantung pada respons saat gempa terjadi, tetapi harus dimulai jauh sebelumnya melalui perencanaan yang matang. “Menghadapi risiko gempa bumi di jalur sesar aktif memerlukan kombinasi antara ketegasan regulasi pemerintah dan kesiapsiagaan mandiri warga,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu memprioritaskan penegakan tata ruang berbasis kebencanaan, penerapan standar bangunan tahan gempa, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. “Mitigasi bukan hanya soal siap saat kejadian, tapi lebih kepada bagaimana kita membangun lingkungan yang tangguh sebelum guncangan terjadi,” pungkas Salahuddin.

Informasi lengkap mengenai potensi Sesar Semarang ini disampaikan melalui penjelasan Dosen Teknik Geologi UGM, Salahuddin Husein, yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026.