Islami

Simak Bacaan Niat Puasa Ramadhan 2026 Lengkap dengan Waktu Terbaik dan Hukum Melafalkannya Sesuai Mazhab

Advertisement

Umat Islam bersiap menyambut bulan suci Ramadhan 2026 dengan memahami rukun ibadah, salah satunya adalah niat. Niat menjadi syarat sah utama yang wajib dipenuhi sebelum menjalankan ibadah puasa agar sesuai dengan tuntunan syariat.

Dalam praktiknya, terdapat perbedaan tata cara niat antara puasa wajib dan puasa sunnah, termasuk perbedaan pandangan di kalangan mazhab terkait waktu pelaksanaannya. Memahami bacaan niat, waktu yang tepat, serta hukum melafalkannya menjadi krusial bagi kelancaran ibadah umat muslim.

Bacaan Niat Puasa Ramadhan Harian dan Sebulan Penuh

Terdapat dua jenis niat yang umum dilafalkan oleh umat muslim di Indonesia, yakni niat harian dan niat untuk satu bulan penuh sebagai langkah antisipasi. Berikut adalah rinciannya:

1. Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh

Niat ini merujuk pada pendapat Imam Malik yang membolehkan niat sekaligus di awal bulan.

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.”

2. Niat Puasa Ramadhan Harian

Niat ini dibaca setiap malam sebelum fajar menyingsing.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Advertisement

Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Waktu Terbaik Membaca Niat Puasa

Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus dilakukan sebelum fajar. Jika seseorang melewatkan niat dan baru teringat setelah Subuh, maka puasanya dianggap tidak sah menurut mayoritas ulama. Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat An-Nasa’i dan Abu Dawud yang menyatakan bahwa tidak ada puasa bagi mereka yang tidak berniat sebelum fajar.

Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa niat wajib dilakukan pada malam hari, yakni sejak Maghrib hingga sebelum terbit fajar. Mazhab Syafi’i secara spesifik menegaskan niat harus diperbarui setiap malam.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Iqna’ menjelaskan bahwa niat di malam hari (tabyit) adalah syarat mutlak bagi puasa wajib, baik itu Ramadhan, puasa qadha, maupun nadzar. Sebaliknya, Mazhab Hanafi memberikan kelonggaran dengan membolehkan niat dilakukan hingga sebelum waktu Dzuhur, selama orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Hukum Melafalkan Niat: Hati atau Lisan?

Para ulama menyepakati bahwa tempat niat adalah di dalam hati. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menegaskan bahwa niat dalam hati sudah mencukupi tanpa harus diucapkan secara lisan. Namun, melafalkan niat melalui lisan dianggap sebagai perkara sunnah.

Berdasarkan penjelasan dalam kitab I’anatut Thalibin, melafalkan niat berfungsi untuk membantu memantapkan ketetapan hati. Dengan memahami ketentuan ini, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sesuai dengan koridor hukum Islam.

Informasi lengkap mengenai panduan ibadah ini dirangkum berdasarkan literatur fiqh klasik dan penjelasan para ulama yang dirilis melalui berbagai saluran edukasi syariat Islam.

Advertisement