Berita

Sosiolog UNS Drajat Tri Kartono Ungkap Faktor Pemicu Kerentanan Anak dalam Kasus Bunuh Diri NTT

Tragedi memilukan menimpa seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia diduga akibat gantung diri pada Kamis (29/1/2026). Peristiwa yang terjadi di dahan pohon cengkih ini memicu keprihatinan luas sekaligus membuka diskusi mendalam mengenai kerentanan anak di tengah kondisi sosial dan ekonomi saat ini.

Faktor Kemiskinan dan Keutuhan Keluarga

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Drajat Tri Kartono, menilai peristiwa ini berkaitan erat dengan faktor kemiskinan dan kondisi keluarga. Menurutnya, bunuh diri pada anak sering kali berhubungan dengan perasaan tidak mendapatkan dukungan ekonomi yang memadai.

“Kalau menurut saya, memang ini gejala berkaitan dengan kemiskinan. Bunuh diri anak berhubungan dengan bagaimana dia merasa tidak mendapatkan dukungan ekonomi yang cukup,” ujar Drajat pada Kamis (5/2/2026).

Selain ekonomi, aspek keutuhan keluarga menjadi jaminan sosial utama bagi anak. Dalam kasus di Ngada, sang ibu diketahui menafkahi anak-anaknya sendirian, sehingga tekanan ekonomi yang besar meningkatkan risiko kerentanan psikologis pada anak.

Pentingnya Dukungan Sosial dan Peran Negara

Drajat menekankan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar hingga negara sangat krusial bagi keluarga rentan. Jika lingkungan sekitar memiliki keterbatasan yang sama, maka negara wajib hadir melalui program penanggulangan terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Untuk memastikan efektivitas program, diperlukan jejaring informasi yang mendetail, termasuk data by name by address pada keluarga yang berisiko. Langkah ini dianggap penting untuk mengantisipasi permasalahan sebelum mencapai titik kritis akibat tekanan ekonomi dan ketidakhadiran struktur keluarga yang utuh.

Empat Jenis Bunuh Diri dalam Perspektif Sosiologi

Mengacu pada teori Emile Durkheim, Drajat menjelaskan empat kategori bunuh diri yang dapat terjadi di masyarakat:

  • Bunuh Diri Egoistik: Terjadi karena seseorang memiliki ikatan sosial yang lemah dan merasa harus menanggung beban hidup sendiri tanpa dukungan sosial.
  • Bunuh Diri Altruistik: Terjadi akibat ikatan komunitas yang sangat kuat, di mana kepentingan individu dianggap kurang penting dibanding kebersamaan kelompok.
  • Bunuh Diri Anomik: Berkaitan dengan ketidakstabilan sosial atau perubahan norma yang mendadak sehingga individu merasa bingung dan kehilangan arah.
  • Bunuh Diri Fatalistik: Terjadi karena tekanan norma atau aturan yang dirasakan terlalu mengekang kebebasan individu.

Informasi mengenai analisis sosiologis terhadap kasus di Kabupaten Ngada ini dihimpun berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan oleh pakar sosiologi Universitas Sebelas Maret.