Tragedi Ngada: Siswa SD 10 Tahun Diduga Akhiri Hidup, Tinggalkan Surat Pilu untuk Ibu, DPR Desak Usut Tuntas
Sebuah peristiwa memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS ditemukan tewas pada Kamis, 29 Januari 2026 siang. Korban diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, meninggalkan sepucuk surat pilu yang ditujukan kepada sang ibu.
Sebelum insiden tragis ini, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga, sebuah fakta yang menyulut perhatian publik luas, termasuk desakan dari anggota DPR RI kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengusut tuntas kasus ini.
Dugaan Bunuh Diri dan Penemuan Surat Wasiat
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Inspektur Dua Benediktus E Pissort, pada Senin, 2 Februari 2026, menyatakan bahwa dugaan sementara kasus ini adalah bunuh diri. Meskipun demikian, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
YBS ditemukan tergantung menggunakan seutas tali pada dahan pohon cengkeh, berlokasi di dekat sebuah pondok yang tidak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek berusia 80-an tahun. Di sekitar lokasi kejadian, ditemukan surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis oleh korban untuk sang ibu.
Kepolisian setempat telah mengonfirmasi keaslian surat tersebut setelah mencocokkan pola tulisan tangan dengan beberapa buku tulis milik korban. “Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” sebut Inspektur Dua Benediktus.
Dalam surat tersebut, korban mengisyaratkan kalimat perpisahan, meminta ibunya untuk tidak bersedih dan mengikhlaskan kepergiannya. Berikut adalah bunyi surat korban dalam bahasa Ngada dan terjemahannya:
KERTAS TII MAMA
RETI MAMA GALO ZEE MAMA
MOLO JA’O GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE MOLO MAMASURAT BUAT MAMA
RETI MAMA SAYA PERGI DULU MAMA
RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL) JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA
Kronologi dan Kesaksian Warga
Untuk menindaklanjuti kasus ini, sejumlah saksi telah diperiksa, termasuk Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34), yang merupakan warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Kornelis Dopo membeberkan bahwa pada pukul 11.00 Wita, saat ia menuju area sekitar pondok nenek korban, ia sudah melihat YBS dalam kondisi tergantung dari kejauhan. Sontak, Kornelis berlari ke lokasi sambil berteriak meminta pertolongan warga setempat. Masyarakat yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian.
Sebelum kejadian, sekitar pukul 08.00 Wita, dua saksi lain, Gregorius dan Rofina, melihat korban duduk murung di bale-bale (tempat duduk bambu) di luar pondok. Keduanya sempat mengajak YBS mengobrol dan menanyakan keberadaan neneknya serta alasan tidak sekolah.
Latar Belakang Keluarga dan Permintaan Terakhir
Ibu korban, MGT (47), juga dimintai keterangan secara terpisah. Ia menceritakan bahwa pada malam sebelum kejadian, YBS bermalam di rumah bersamanya. Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 Wita, korban diantar dan dititipkan ke tukang ojek menuju pondok sang nenek.
Sebelum berpisah, MGT sempat menasihati YBS agar rajin sekolah, sekaligus menyampaikan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Di mata warga setempat, YBS dikenal sebagai anak yang periang dan cerdas, sebagaimana diungkapkan oleh Lipus Djio (47), seorang tetangga yang anaknya berteman dengan korban.
Lipus menuturkan bahwa kondisi keluarga korban memang penuh rintangan, itulah mengapa YBS memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ayah korban diketahui telah meninggal dunia saat YBS masih dalam kandungan, dan ibunya harus menafkahi lima anak sendirian. “Yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri? Begitu beratkah beban yang ia pikul?” ucap Lipus.
DPR RI Desak Investigasi Menyeluruh
Kasus dugaan bunuh diri ini menjadi sorotan serius. Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, turut buka suara dan mendesak Kemendikdasmen untuk mengusut tuntas latar belakang kasus ini. “Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026, dikutip dari laman Fraksi PKB DPR RI.
Menurut Habib Syarief, kejadian tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. “Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” tegasnya. Ia menuntut Kemendikdasmen untuk melakukan investigasi guna memastikan ada atau tidaknya kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di wilayah tersebut. “Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” pungkasnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Polres Ngada dan Fraksi PKB DPR RI yang dirilis pada awal Februari 2026.