Finansial

Tren Karier Gen Z 2026: 57 Persen Pekerja Pilih Side Hustle Dibanding Kejar Jabatan Tinggi Perusahaan

Advertisement

Mayoritas pekerja dari Generasi Z kini mulai meninggalkan ambisi konvensional untuk mengejar jabatan tinggi di struktur korporasi. Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, sebanyak 57 persen Gen Z lebih memilih membangun berbagai sumber penghasilan melalui pekerjaan sampingan atau side hustle sebagai strategi utama dalam berkarier.

Fenomena ini menandai pergeseran struktural dalam cara generasi muda memandang stabilitas ekonomi dan kesuksesan profesional. Alih-alih meniti tangga karier linear, mereka kini lebih fokus pada diversifikasi pendapatan untuk menghadapi ketidakpastian pasar kerja global.

Pergeseran Paradigma Karier Lintas Generasi

Data dari survei Harris Poll menunjukkan bahwa keterlibatan dalam side hustle di kalangan Gen Z jauh melampaui generasi sebelumnya. Berikut adalah perbandingan persentase pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan berdasarkan generasi:

  • Gen Z: 57 persen
  • Milenial: 48 persen
  • Gen X: 31 persen
  • Baby Boomers: 21 persen

Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor, menjelaskan bahwa jenjang karier yang kaku kini telah digantikan oleh pijakan karier yang lebih fleksibel. “Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier, jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini,” ungkap Sanner.

Konsep ‘9-to-5 Funds the 5-to-9’

Perubahan cara pandang ini melahirkan istilah populer “the 9-to-5 funds the 5-to-9”. Dalam konsep ini, pekerjaan utama (pukul 09.00-17.00) dipandang sebagai fondasi finansial untuk mendanai proyek pribadi atau bisnis sampingan yang dijalankan setelah jam kantor (pukul 17.00-21.00).

Para ekonom menyebut tren ini sebagai portfolio career, di mana seseorang menggabungkan pekerjaan tetap dengan aktivitas lain seperti freelance, konsultasi, hingga bisnis produk digital. Strategi ini dianggap lebih efektif dalam memitigasi risiko finansial dibandingkan hanya bergantung pada satu pemberi kerja.

Advertisement

Dampak AI dan Ketidakpastian Ekonomi

Ketakutan terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama masifnya side hustle. Laporan Glassdoor menyebutkan sekitar 70 persen pekerja Gen Z merasa AI mengancam keamanan pekerjaan jangka panjang mereka. Otomatisasi yang mulai menyentuh sektor layanan pelanggan hingga analisis data memaksa mereka mencari sumber pendapatan alternatif.

Selain faktor teknologi, tekanan inflasi juga memaksa pekerja untuk lebih adaptif. Survei OnePoll mencatat bahwa 48 persen pekerja memulai pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah meningkatnya biaya perumahan dan kebutuhan dasar.

Nilai Ekonomi dan Otonomi Finansial

Bagi banyak pekerja, side hustle bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan data LendingTree, rata-rata pendapatan tambahan dari pekerjaan sampingan mencapai 1.215 dollar AS atau sekitar Rp20,46 juta per bulan (asumsi kurs Rp16.845 per dollar AS).

Faktor MotivasiDeskripsi
OtonomiKebebasan mengambil keputusan tanpa struktur organisasi.
FleksibilitasKendali penuh atas waktu dan lokasi kerja.
Ekspresi DiriSarana menyalurkan kreativitas yang tidak ada di pekerjaan utama.
KeamananDiversifikasi risiko jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Teknologi digital seperti platform marketplace, media sosial, dan alat berbasis AI mempermudah individu untuk memonetisasi keterampilan mereka secara global. Hal ini membuat jabatan manajerial di perusahaan tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan bagi generasi muda.

Informasi lengkap mengenai tren pergeseran karier dan data ketenagakerjaan ini merujuk pada laporan survei Harris Poll dan Glassdoor yang dirilis melalui Forbes pada Februari 2026.

Advertisement